JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Jumat, 25 September 2026. Penutupan pasar menunjukkan penurunan signifikan, tertekan aksi jual investor menjelang akhir pekan.
Berdasarkan data yang dihimpun, IHSG ditutup di level 6.241,89. Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 56,71 poin atau 0,90% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di 6.298,61 pada pukul 16.00 WIB.
IHSG Bergerak Volatile, Sempat Menguat di Awal
Pergerakan intraday IHSG pada hari ini menunjukkan volatilitas tinggi. Indeks sempat dibuka menguat di 6.315,53, atau naik 0,27% dari penutupan sebelumnya. Bahkan, pada jam 09.00 pagi, IHSG mencapai level tertinggi hariannya di 6.328,41.
Namun, euforia awal tak bertahan lama. IHSG langsung terjun bebas pada jam pertama perdagangan, bergerak di rentang 6.262 hingga 6.285. Tekanan jual semakin intensif di sesi siang. Meskipun sempat ada pantulan kecil sekitar pukul 15.30 WIB, indeks tetap tidak mampu bangkit dan ditutup di level terendah hariannya.
Level terendah yang sempat disentuh adalah 6.231,83, menandakan support 6.250 sempat jebol di sesi kedua. Sementara itu, rentang 52 minggu IHSG tercatat antara 5.317,91 (terendah) dan 9.174,47 (tertinggi).
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada satu jam pertama perdagangan menunjukkan volume transaksi mencapai 12,78 miliar lembar saham senilai Rp2,84 triliun. Dalam periode tersebut, hanya 165 saham yang mengalami kenaikan harga, sementara 450 saham melemah, dan 163 saham stagnan. Indeks saham unggulan LQ45 juga tidak luput dari tekanan, mencatat pelemahan sebesar 0,34%.
Tiga Faktor Utama Pendorong Anjloknya IHSG
Pelemahan IHSG hari ini dipengaruhi oleh setidaknya tiga faktor utama:
1. Aksi Profit Taking Jelang Akhir Pekan
Setelah minggu yang penuh volatilitas dan koreksi 1,20% pada hari Kamis, banyak investor memilih untuk mengambil keuntungan dari posisi mereka. Aksi ini memicu penjualan masif. Secara teknikal, level support terdekat di area 6.267–6.280 tidak mampu menahan tekanan jual dan jebol.
2. Arus Dana Asing Keluar dan Yield Obligasi AS
Investor asing mencatat net sell signifikan sebesar Rp1,49 triliun pada hari Kamis. Situasi ini diperparah dengan tingginya yield US Treasury 10 tahun yang masih bertahan di kisaran 5,11%–5,15%. Yield obligasi AS yang menarik membuat dana investor mengalir keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, turut menekan nilai tukar Rupiah.
3. Sentimen Global yang Campur Aduk
Bursa saham Asia secara umum menunjukkan tren pelemahan. Indeks Hang Seng anjlok 1,84%, disusul Straits Times yang turun 0,12%. Meskipun ada pengecualian dengan Nikkei Jepang yang justru naik 1,23%, dan bursa Shanghai libur, kekhawatiran global tetap membayangi. Kenaikan inflasi di Amerika Serikat (Producer Price Index/PPI naik 0,4% MoM dan 5,4% YoY) memicu spekulasi pasar akan potensi Federal Reserve yang lebih hawkish, memicu kekhawatiran investor.
Analis dari MNC Sekuritas dan Phintraco mengindikasikan bahwa IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksinya. Jika indeks tidak mampu bertahan di atas level 6.250, target koreksi berikutnya diperkirakan berada di area 6.186. Level resistance terdekat yang perlu diperhatikan berada di 6.300–6.344. Apabila support 6.200 jebol, level support selanjutnya yang krusial adalah 6.150. Investor disarankan untuk menahan posisi tunai dan tidak melakukan average down secara agresif. Saham-saham blue chip defensif dan beberapa saham yang mencatat kenaikan signifikan (ARA), seperti TRUK, mungkin menarik untuk masuk dalam daftar pantauan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.