MATARAM — Kebakaran di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat terus meluas dengan luas area terdampak mencapai 589,23 hektare hingga Kamis (24/9). Pusat kebakaran terjadi di sekitar kawasan Bukit Setampol, yang pertama kali dilaporkan pada Selasa (22/9) pukul 18.50 Wita.
Tim pemadaman menghadapi tantangan nyata di lapangan. Angin kencang, vegetasi yang kering dan mudah terbakar, serta lokasi kebakaran yang sulit dijangkau menjadi hambatan utama. Waktu tempuh menuju titik kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 6 jam, dengan medan di sejumlah lokasi berupa tebing yang curam.
Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Astekita Ardiaristo menjelaskan jenis vegetasi yang terdampak. “Vegetasi yang terdampak kebakaran didominasi rumput, ilalang, semak, dan vegetasi bawah lainnya,” ujar Astekita, Jumat (25/9).
Angka Masih Sementara, Terus Diperbarui
Balai TNGR menekankan bahwa angka 589,23 hektare masih bersifat sementara. Data tersebut akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan lapangan, pemetaan udara, dan verifikasi lebih lanjut terhadap batas areal terdampak. Transparansi dalam pelaporan menjadi kunci untuk memantau dinamika kebakaran yang terus berubah.
Jalur Pendakian Ditutup untuk Keselamatan
Sejak Rabu (23/9), Balai TNGR telah menutup sementara jalur pendakian Torean. Keputusan ini diambil demi menjaga keselamatan pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi tim untuk melakukan pemadaman, pemantauan, dan pengendalian kebakaran tanpa hambatan.
Pada tahap awal, tujuh personel dari Manggala Agni Resor Torean dan Masyarakat Peduli Api dikerahkan lewat jalur Torean menuju Bukit Setampol di sisi timur. Secara bersamaan, pemantauan dilakukan dari jalur pendakian Senaru oleh personel gabungan Balai TNGR, TNI, dan Polri untuk mencegah penyebaran api ke area lain.
Penambahan Personel dan Teknologi Drone
Upaya pemadaman diperkuat pada Kamis (24/9) dengan pengerahan 30 personel gabungan tambahan. Sebagian ditempatkan di Bukit Setampol untuk penanganan langsung, sementara tim lainnya bergerak ke kawasan Birisan Nangka untuk melakukan pemadaman sekaligus mengantisipasi penyebaran api ke arah jalur pendakian Torean.
Selain operasi darat, Balai TNGR mengerahkan drone untuk memantau dari udara. Teknologi ini membantu mengidentifikasi sebaran titik api dan luas area terdampak sebagai dasar evaluasi serta penentuan strategi penanganan yang lebih efektif dan terukur.
Keselamatan Personel Jadi Prioritas Utama
Balai TNGR menyatakan keselamatan personel menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu, jalur, dan metode pemadaman. Tidak semua strategi pemadaman dapat dilakukan sekaligus karena kondisi medan dan cuaca yang ekstrem.
Masyarakat lokal dan calon pendaki diimbau menjauhi lokasi kebakaran dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Antisipasi dini dari komunitas lokal diharapkan dapat membantu tim pemadaman fokus pada operasi penanganan di lapangan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.