SAMPIT — PT Hutan Sawit Lestari (PT HSL) resmi meraih Sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) pada 2026. Pencapaian ini bukan sekadar dokumen, melainkan pernyataan tegas bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian dari DNA perusahaan.
“Kami memaknai Sertifikat ISPO bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai amanah untuk terus memperbaiki tata kelola, memperkuat kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat, serta memastikan setiap aktivitas perusahaan memberikan nilai yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” kata General Manager PT Hutan Sawit Lestari, Siswanto, di Sampit, Sabtu.
Perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, melihat sertifikasi ISPO sebagai momentum krusial. Pencapaian ini tidak sekadar memenuhi tuntutan administratif, tetapi mencerminkan komitmen konsisten dalam membangun praktik usaha yang memperhatikan kepatuhan, lingkungan, aspek sosial, dan keberlanjutan jangka panjang.
Siswanto, yang juga menjabat Ketua Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) Kotawaringin Timur, Seruyan, dan Katingan, menekankan bahwa raihan ISPO adalah hasil kerja melibatkan manajemen, karyawan, mitra, masyarakat sekitar, dan berbagai pemangku kepentingan. Tidak ada yang bekerja sendirian dalam pencapaian ini.
Keberlanjutan Bukan Sekadar Dokumen
Inti dari apa yang ingin disampaikan Siswanto jelas: keberlanjutan harus menjadi budaya organisasi, bukan sekadar kewajiban memenuhi standar audit. Prinsip-prinsip keberlanjutan perlu diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari, dari tingkat manajemen hingga pekerja di lapangan.
“Keberlanjutan harus hidup dalam sistem, keputusan manajemen, dan perilaku setiap insan perusahaan. Sertifikasi memberikan pengakuan terhadap sebuah proses, sedangkan keberlanjutan menuntut konsistensi dalam jangka panjang,” ujar Siswanto, yang sekaligus menjabat Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kotawaringin Timur.
Dengan pendekatan ini, implementasi ISPO diharapkan tidak berhenti pada dokumen, prosedur, dan pemenuhan indikator audit, melainkan berkembang menjadi kesadaran kolektif di dalam organisasi.
Dampaknya langsung: operasional perkebunan menjadi lebih transparan, keputusan bisnis mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial, serta kepercayaan dari pemangku kepentingan—termasuk konsumen global—semakin kuat.
ISPO: Standar Internasional yang Lahir dari Indonesia
ISPO sendiri adalah kebijakan dan sistem sertifikasi yang dibentuk Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian untuk memastikan pengelolaan perkebunan kelapa sawit sesuai standar keberlanjutan. Keunikannya: ISPO adalah standar nasional minyak sawit berkelanjutan pertama di dunia yang dibentuk oleh suatu negara, dan menjadi rujukan bagi produsen sawit lain yang mempertimbangkan skema serupa.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.