PALEMBANG, JOURNALARTA.COM – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi Pertamina, yaitu Pertalite dan Biosolar, dipastikan tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026. Keputusan ini ditegaskan oleh pemerintah melalui Pertamina Patra Niaga, sementara harga BBM non-subsidi terpantau naik signifikan pada awal September 2026 dan berpotensi kembali terkerek pada 1 Oktober mendatang.
VP Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, pada 13 September 2026, menjelaskan bahwa kebijakan harga BBM subsidi mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini juga diperkuat oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Harga Pertalite (RON 90) tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Subsidi tetap Rp6.800 per liter.
Kenaikan BBM Non-Subsidi dan Perbandingannya
Berbeda dengan BBM subsidi, harga BBM non-subsidi telah mengalami penyesuaian pada 1 dan 2 September 2026, berdasarkan formula yang mempertimbangkan harga minyak dunia, kurs rupiah, pajak, dan daya beli masyarakat. Sebagian besar jenis BBM non-subsidi tercatat naik signifikan, kecuali Pertamax RON 92 yang stabil di Rp15.950 per liter setelah sempat turun tipis di awal September.
Pertamax Green 95 (RON 95) naik Rp2.550 menjadi Rp19.150 per liter dari sebelumnya Rp16.600. Pertamax Turbo (RON 98) juga mengalami kenaikan Rp1.300 menjadi Rp19.600 per liter dari Rp18.300. Kenaikan paling tajam terjadi pada BBM jenis diesel. Dexlite (Diesel CN51) melesat Rp4.000 menjadi Rp23.700 per liter dari Rp19.700, dan Pertamina Dex (Diesel CN53) melonjak Rp4.050 menjadi Rp25.200 per liter dari Rp21.150.
Secara nasional, harga-harga ini berlaku untuk wilayah DKI Jakarta, Palembang (Sumsel), dan Jawa dengan PBBKB 5%. Jika dibandingkan dengan SPBU swasta per 10 September, Pertamax 92 milik Pertamina dengan harga Rp15.950 per liter masih lebih kompetitif dibandingkan BP 92 yang stabil di Rp16.130 per liter.
Dampak dan Prediksi Harga Oktober
Kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya jenis diesel, berdampak langsung pada pengeluaran. Bagi konsumen yang menggunakan Dexlite, konsumsi 60 liter per bulan akan menambah pengeluaran sekitar Rp243.000. Jika konsumsi mencapai 100 liter, biaya tambahan bisa mencapai Rp405.000. Pengguna kendaraan diharapkan dapat menghitung ulang anggaran mereka.
Untuk prediksi 1 Oktober 2026, harga BBM subsidi (Pertalite dan Biosolar) dipastikan akan tetap stabil di angka Rp10.000 dan Rp6.800 per liter. Tidak perlu ada kekhawatiran mengenai kenaikan mendadak untuk jenis BBM ini.
Namun, BBM non-subsidi berpotensi kembali naik. Jika harga minyak dunia tetap tinggi dan rupiah melemah, kenaikan diperkirakan antara Rp200-500 per liter. Indikasi ini terlihat dari bocoran harga di Kalimantan Barat per 28 September 2026, di mana Pertamax naik menjadi Rp16.300, Pertamax Turbo menembus Rp20.000, Dexlite Rp24.200, dan Pertamina Dex Rp25.750. Sebaliknya, jika minyak dunia turun dan rupiah menguat, harga bisa stabil atau bahkan sedikit turun.
Di beberapa daerah seperti Kalimantan Barat, disparitas harga eceran masih tinggi. Harga eceran di Pontianak dan Kubu Raya mencapai Rp12.000, Sambas Rp13.000, Sekadau Rp15.000, hingga Kapuas Hulu Rp20.000 per liter. Kondisi ini mendorong Pemerintah Daerah bersama Pertamina membentuk Satgas Khusus untuk mengatasi antrean panjang dan perbedaan harga yang signifikan.
Tips untuk Konsumen
Warga Palembang dan Sumatera Selatan disarankan untuk mengisi BBM sesuai spesifikasi kendaraan. Kendaraan dengan rasio kompresi di bawah 10:1 cukup menggunakan Pertalite untuk performa optimal dan efisiensi. Hindari membeli BBM dari pedagang eceran yang menjual di atas harga SPBU resmi.
Untuk informasi harga terbaru dan terverifikasi, selalu pantau aplikasi MyPertamina atau situs web resmi pertaminapatraniaga.com, bukan informasi yang beredar di pesan berantai. Pembaruan harga BBM non-subsidi biasanya dilakukan pada tengah malam tanggal 1 setiap bulannya, sekitar pukul 00:00 WIB di SPBU Pertamina.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.