Pemantauan Drone dan Verifikasi Lapangan
Untuk melacak perkembangan kebakaran secara real-time, Balai TNGR menggunakan dokumentasi udara melalui drone. Teknologi ini membantu pemetaan area terdampak dengan lebih akurat ketimbang estimasi darat. Namun, perbaruan data masih bergantung pada kondisi cuaca dan kemampuan tim untuk akses lapangan secara langsung guna verifikasi batas-batas yang terdampak.
Ketidakpastian angka luas area adalah norma dalam situasi kebakaran aktif. Data 977,74 hektare yang dilaporkan Sabtu malam kemungkinan akan berubah lagi dalam update berikutnya — bisa bertambah jika api terus meluas, atau berkurang jika upaya pemadaman mulai menunjukkan hasil nyata.
Mobilisasi Lintas Instansi
Penanganan kebakaran melibatkan kolaborasi lintas lembaga. Selain Balai TNGR, personel dari TNI dan Polri turut dilibatkan dalam operasi pemadaman dan logistik. Manggala Agni Resor Torean dan Masyarakat Peduli Api juga bergerak di lapangan sejak fase awal. Koordinasi antar-instansi ini krusial mengingat medan pegunungan yang kompleks membutuhkan keahlian dan sumber daya yang beragam.
Kendala klasik operasi di pegunungan tetap menjadi hambatan: keterbatasan peralatan berat, sulitnya supply makanan dan air bersih untuk personel, risiko cedera di medan terjal, serta kelelahan fisik tim yang bekerja dalam kondisi ekstrem. Setiap personel yang diturunkan harus mampu bertahan dalam ketinggian ribuan meter dengan udara tipis dan suhu yang bervariasi drastis.
Hingga saat ini, tidak ada laporan korban jiwa dari kebakaran maupun operasi pemadaman. Namun, risiko tetap tinggi selama api masih aktif dan angin terus bertiup kencang di Gunung Rinjani.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.