JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) anjlok 1,20% ke level Rp6.175 per lembar pada perdagangan Senin, 28 September 2026. Penurunan ini menjadikan BBCA sebagai salah satu pemberat utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga melemah signifikan.
Pergerakan BBCA hari ini ikut menyeret IHSG yang sempat melemah nyaris 1% di sesi pertama. Saham BCA dibuka pada harga Rp6.225, turun 0,40% atau 25 poin dari penutupan Jumat (26/9/2026) di level Rp6.250. Kapitalisasi pasar BBCA tercatat Rp753 triliun.
Transaksi Negosiasi dan Tekanan Pasar Reguler
Di tengah pelemahan tersebut, terjadi transaksi jumbo di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebanyak 1 juta lot saham BBCA berpindah tangan di harga Rp6.212 per saham, dengan nilai total mencapai Rp621,2 miliar. Hingga berita ini ditulis, identitas pembeli maupun penjual dalam transaksi ini belum diumumkan secara resmi.
Sementara itu, di pasar reguler, BBCA melemah 1,20% atau Rp75 ke level Rp6.175. Total 36,5 juta saham telah diperdagangkan melalui 9.559 kali frekuensi transaksi, dengan nilai mencapai Rp226,72 miliar.
Penurunan harga BBCA berkontribusi besar terhadap pelemahan IHSG. Indeks sempat anjlok 0,97% ke level 6.181 pada sesi I, terutama setelah saham GOTO dibuka dari gembok Rp50 oleh BEI. BBCA menempati posisi ketiga sebagai pemberat IHSG, menyumbang -4,43 poin, setara dengan MORA. GOTO menjadi pemberat utama dengan -12,9 poin.
Berikut daftar saham pemberat utama IHSG:
- GOTO: -12,9 poin
- MORA: -4,43 poin
- BBCA: -4,43 poin
- FORU: -3,1 poin
- TLKM: -2,78 poin
Analisis Teknikal dan Perubahan Arus Dana Asing
Secara teknikal, harga BBCA Rp6.175 berada di bawah Moving Average (MA) jangka pendek dan menengah, meliputi MA5 di Rp6.230, MA10 di Rp6.275, MA20 di Rp6.428, dan MA50 di Rp6.399. Ini mengindikasikan tekanan jual yang dominan dalam jangka pendek hingga menengah.
Namun, harga BBCA saat ini berada di dekat MA100 di Rp6.172,75. Jika level ini mampu bertahan sebagai support, ada potensi untuk menguji level resistance berikutnya. Indikator Relative Strength Index (RSI) di 40,40 dan MACD negatif -56,509 menunjukkan momentum pelemahan. Namun, Stochastic dan Williams %R telah menunjukkan kondisi jenuh jual (oversold), yang bisa mengisyaratkan potensi rebound teknikal.
Asing menunjukkan sinyal positif pada Jumat (25/9/2026) dengan net buy BBCA senilai Rp103,17 miliar. Ini menjadi perubahan dramatis setelah periode net sell selama 9-23 September dengan total Rp2,59 triliun. Meskipun demikian, secara bulanan, asing masih mencatat net sell sebesar Rp1,52 triliun di bulan September, berbalik dari tren net buy pada Juli (+Rp1,33 triliun) dan Agustus (+Rp1,24 triliun). Dalam sepekan, BBCA masih mengalami outflow asing sebesar Rp143,30 miliar.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.