PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) menyiagakan pasokan air sebanyak 100 ribu liter atau 100 meter kubik setiap harinya untuk menekan laju kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera Selatan. Langkah ini diambil perusahaan semen tersebut guna memastikan tim pemadam di lapangan tidak kekurangan amunisi air saat menjinakkan api yang kerap mengamuk di musim kemarau.
Kondisi darurat lingkungan di sekitar area operasional menjadi pemicu utama langkah cepat ini. Manajemen perusahaan ingin memastikan ekosistem tetap terjaga meski ancaman kobaran api mengintai lahan-lahan vegetasi di sekitar wilayah kerja mereka.
Senior Manager of CSR PT Semen Baturaja Tbk, David Irwanto, menjelaskan bahwa bantuan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Pihaknya sengaja mengalokasikan kapasitas air yang bisa langsung diambil oleh petugas pemadam. Koordinasi intensif dengan pihak terkait menjadi kunci agar distribusi air ini tepat sasaran, namun tetap menjaga stabilitas operasional pabrik agar tidak terganggu.
Dukungan Dana untuk Relawan
Api tidak bisa padam dengan air saja. Butuh tenaga manusia. Sadar akan hal itu, SMBR juga menyalurkan bantuan dana operasional kepada Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Sumatera Selatan. Dana ini ditujukan untuk melancarkan mobilitas para relawan yang berjibaku langsung di titik api.
David menuturkan bahwa kolaborasi lintas elemen menjadi harga mati dalam menghadapi karhutla. Menurutnya, KOKAM memiliki barisan relawan yang sigap dan punya nyali untuk terjun ke lapangan. “Kami mendukung sepenuhnya kerja keras rekan-rekan relawan.
Mereka yang berada di garis depan, kami bantu dari sisi logistik dan pendanaan agar operasional pemadaman tetap jalan,” ujarnya saat memberikan keterangan di Bandar Lampung, Minggu.
Bantuan dana ini diharapkan mampu menutupi kebutuhan mendesak para relawan, mulai dari konsumsi hingga perlengkapan lapangan yang menunjang keselamatan mereka saat berhadapan dengan asap pekat dan panas ekstrem.
Menjaga Napas Ekosistem
Bagi SMBR, karhutla bukan hanya soal lahan yang menghitam. David menegaskan ada taruhan yang lebih besar, yakni nasib flora dan fauna. Kebakaran hutan adalah ancaman nyata bagi keberagaman hayati yang selama ini menjadi penyeimbang alam Sumatera Selatan. Ketika hutan terbakar, habitat satwa hilang. Kualitas udara di pemukiman warga pun langsung anjlok.
“Apa yang kita lindungi bukan cuma tanah. Ada vegetasi, satwa, dan keanekaragaman hayati di sana. Semuanya perlu kita jaga agar ekosistem tidak hancur total,” kata David dengan nada serius. Ia memandang bahwa pencegahan kebakaran adalah investasi jangka panjang untuk kualitas hidup masyarakat dan keberlangsungan lingkungan.
Perusahaan pun tidak bisa bekerja sendirian. David mengajak seluruh elemen masyarakat serta pemangku kepentingan lainnya untuk terus meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika puncak musim kemarau tiba. Titik api sekecil apa pun bisa memicu malapetaka besar jika tidak segera ditangani.
Kesiapsiagaan sumber daya yang dilakukan SMBR ini merupakan bentuk implementasi dari komitmen keberlanjutan perusahaan. Mereka ingin memastikan kehadiran industri di wilayah tersebut memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar, bukan justru acuh saat bencana alam melanda.
Saat ini, tim di lapangan masih terus bersiaga. Pihak perusahaan memastikan bahwa jalur komunikasi dengan instansi terkait dan kelompok relawan tetap terbuka 24 jam. Jika kebutuhan air meningkat atau ada permintaan tambahan logistik di lapangan, SMBR menyatakan siap melakukan penyesuaian strategi demi mempercepat pemadaman api sebelum meluas ke area yang lebih luas.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.