KATHMANDU — Empat pendaki dan staf pendukung meninggal dunia setelah longsoran salju menerjang base camp mereka di puncak Gunung Himlung pada Minggu pagi (27/9). Belasan orang lainnya, sebagian besar pekerja dapur, masih hilang di bawah timbunan salju setinggi sekitar 4,2 meter yang menghancurkan area perkemahan di ketinggian 7.126 meter.
Bencana melanda kelompok pendaki Nepal yang terdiri atas pemandu gunung, staf pendukung, dan pekerja dapur. Mereka telah tiba lebih awal sebelum kedatangan pendaki asing untuk menyiapkan lokasi base camp dan memasang peralatan keselamatan. Hujan salju deras yang turun di wilayah perbatasan Nepal-Tibet menjadi pemicu longsor yang sangat besar.
Asosiasi Pemandu Gunung Nasional Nepal melaporkan bahwa dua jenazah pertama ditemukan pada Minggu (27/9), disusul penemuan dua jenazah lainnya pada Senin (28/9). Hingga saat ini, 12 staf masih dinyatakan hilang di lokasi base camp Himlung, menurut pernyataan asosiasi yang disampaikan melalui media sosial pada Selasa (29/9).
Kondisi Pencarian Semakin Berat
Upaya penyelamatan terhambat oleh cuaca ekstrem dan medan yang berbahaya. Helikopter dan tim penyelamat sempat tidak dapat menjangkau lokasi longsor karena kondisi cuaca yang buruk. Tim yang terus mendaki gunung menghadapi tantangan berat dalam melakukan pencarian manual.
“Longsoran salju tersebut sangat besar, dengan timbunan salju setinggi sekitar 14 kaki menutupi area base camp. Melakukan pencarian secara manual di setiap bagian sangatlah sulit dan berbahaya akibat kedalaman salju, suhu yang sangat dingin, dan kondisi yang tidak stabil,” demikian pernyataan Asosiasi Pemandu Gunung Nasional Nepal.
Gunung Himlung terletak di distrik Manang, salah satu wilayah paling rentan terhadap bencana alam di kawasan Himalaya. Lokasi ini menjadi tujuan pendakian populer bagi para pendaki internasional, meskipun medan yang ekstrem dan cuaca yang tak terduga selalu menjadi risiko signifikan.
Longsor Lain Terjadi di Berbagai Lokasi
Insiden longsor tidak hanya terbatas pada Gunung Himlung. Di lereng perbukitan lain di distrik Manang, material longsor jatuh ke Sungai Marsyangdi dan sempat menghambat aliran sungai tersebut selama beberapa jam. Otoritas Nepal melaporkan bahwa penyumbatan aliran sungai kembali normal setelah beberapa jam tanpa laporan korban jiwa atau kerusakan parah.
Video yang beredar di media sosial menampilkan momen ketika bebatuan berguguran dari lereng gunung menghunjam area sungai di bawahnya. Pada Minggu (27/9), longsor lainnya juga memicu penyumbatan aliran sungai di distrik Palpa dan Mustang, meskipun dampaknya terbatas karena aliran air kembali lancar.
Rangkaian bencana ini dipicu oleh hujan terus-menerus yang mengguyur Nepal dalam beberapa hari terakhir. Otoritas setempat melaporkan bahwa lebih dari 20 orang tewas akibat banjir, tanah longsor, dan berbagai insiden lain terkait cuaca ekstrem di berbagai wilayah Nepal.
Konteks Bencana Alam di Nepal
Bencana yang melanda Nepal saat ini merupakan rentetan insiden serius yang terjadi di kawasan Asia Selatan.
Sementara Nepal menghadapi longsor dan banjir, negara tetangga Thailand mengalami dampak serupa dengan 19 orang tewas akibat banjir luas yang mempengaruhi 23 provinsi dan sekitar 700.000 orang terdampak di Bangkok saja.
Di Myanmar, banjir juga menewaskan hingga 10 orang dengan puluhan lainnya hilang.
Sistem cuaca ekstrem yang sama menyapu wilayah Himalaya dan Asia Tenggara, menunjukkan skala bencana alam yang luas di kawasan tersebut. Hujan monsun yang berkelanjutan, dikombinasikan dengan topografi yang curam, menciptakan kondisi ideal untuk longsor dan banjir di berbagai belahan.
Nepal masih dalam tahap pemulihan dari banjir bandang dahsyat yang terjadi di perbatasan Nepal-Tibet pada 26 Agustus lalu.
Bencana tersebut menewaskan sedikitnya 1.453 orang dan membuat lebih dari 5.000 orang hilang, menjadikannya salah satu bencana alam paling mematikan yang pernah terjadi di negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Rentetan bencana baru kali ini menunjukkan bahwa infrastruktur dan sistem peringatan dini Nepal masih menghadapi tantangan serius dalam menghadapi cuaca ekstrem yang semakin frekuen.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.