BANGKOK — Jumlah korban banjir di Thailand terus bertambah. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya empat orang meninggal di Bangkok akibat hujan deras yang mengguyur kota sejak akhir pekan, membawa total korban tewas menjadi 23 orang di berbagai wilayah sejak pertengahan September.
Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana (DDPM) mencatat bahwa banjir telah menjangkau 29 provinsi dari total 77 provinsi di Thailand. Sebanyak 700.000 orang terdampak langsung oleh bencana, terutama di area ibu kota yang masih tergenang air hingga tiga hari setelah pemerintah kota menetapkan status bencana pada akhir pekan.
Data rinci dari DDPM menunjukkan distribusi korban yang tersebar. Empat orang meninggal di Bangkok, delapan orang di Samut Prakan (wilayah antara ibu kota dan laut), enam orang di Sa Kaeo (timur Thailand), lima orang di Chanthaburi (tenggara Bangkok), dan sisanya di Ayutthaya serta Saraburi yang terletak di sebelah utara ibu kota.
Curah hujan yang intens dipicu oleh sistem tekanan rendah yang melanda kawasan. Data curah hujan menunjukkan intensitas yang signifikan: 62 milimeter di Nong Chok, 55 milimeter di Lat Krabang, dan 52 milimeter di Min Buri dalam satu malam saja.
Hampir 7.000 orang masih berada di lebih dari 230 tempat penampungan yang tersebar di seluruh Bangkok. Sekolah-sekolah di kota masih diliburkan untuk hari kedua berturut-turut. Pemerintah bahkan telah memindahkan sekitar 1.500 pasien yang tidak dapat beranjak dari tempat tidur ke rumah sakit kota.
Infrastruktur Kritis Bekerja Maksimal
Stasiun pompa terus beroperasi dengan kapasitas penuh selama berhari-hari untuk mengalirkan air banjir. Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt menyatakan pada Minggu (27/9) bahwa dibutuhkan waktu “hingga satu minggu” agar air benar-benar surut dari seluruh wilayah kota.
Prioritas pemerintah kota adalah menurunkan ketinggian air di kanal-kanal utama, termasuk Prawet Burirom dan Lat Phrao, agar air dapat mengalir keluar dari jalan raya dan kawasan permukiman. Beberapa ruas jalan sudah mulai dibuka, seperti sebagian Jalan Phetchaburi dan Vibhavadi Rangsit, meskipun banjir masih terjadi di lokasi-lokasi tertentu.
Distrik yang paling parah terdampak banjir mencakup Lat Krabang, Bang Kapi, Khan Na Yao, Sai Mai, Suan Luang, Saphan Sung, dan Lak Si. Fasilitas kesehatan juga terkena dampak: 24 fasilitas tetap beroperasi, tiga ditutup sebagian, dan 22 menghentikan layanan.
Musim Hujan dan Ancaman Perubahan Iklim
September adalah puncak musim penghujan di Thailand, namun banyak warga Bangkok merasa banjir tahun ini terasa lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dipicu oleh kondisi geografis kota yang unik: Bangkok dibangun di atas lahan yang dulunya merupakan rawa-rawa dan dilintasi oleh jaringan kanal-kanal yang banyak meluap saat curah hujan tinggi.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa intensitas dan frekuensi peristiwa cuaca ekstrem akan terus meningkat seiring percepatan pemanasan global akibat emisi bahan bakar fosil. Thailand sendiri termasuk dalam daftar 10 negara yang paling rentan terhadap krisis iklim, menurut organisasi nirlaba Germanwatch.
Sistem cuaca ekstrem yang sama juga menerjang Myanmar, negara tetangga Thailand, menyebabkan banjir dan tanah longsor yang menewaskan hingga 10 orang dengan puluhan lainnya hilang, terutama di wilayah Tanintharyi di ujung selatan Myanmar.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.