Sentimen negatif juga berasal dari bursa global. Wall Street ditutup merah pada 28 September, dengan Dow Jones turun 0,67% ke 51.482, S&P 500 melemah 0,77%, dan Nasdaq anjlok 0,92%. Bursa Asia juga kompak bergerak di zona merah: Nikkei turun 1,33%, Hang Seng 0,64%, Shanghai 0,02%, dan Straits Times 0,5%.
Volume transaksi harian tercatat sebesar Rp12,9 triliun, melibatkan 24,26 miliar lembar saham dengan frekuensi 1,17 juta kali. Sebanyak 315 saham menguat, namun 391 saham melemah, dan 257 saham stagnan pada penutupan. Sektor teknologi mencatat penurunan terdalam sebesar 3,37%, diikuti properti (-1,31%), energi (-1,1%), barang konsumen primer (-0,46%), transportasi (-0,36%), bahan baku (-0,23%), dan kesehatan (-0,12%).
Meskipun mayoritas sektor melemah, beberapa sektor mampu bertahan di zona hijau: barang konsumen non-primer (+0,7%), industri (+0,5%), infrastruktur (+0,06%), dan keuangan (+0,03%).
Saham-saham yang ARA dan Potensi Rebound
Di tengah tekanan jual, empat saham justru mencetak Auto Rejection Atas (ARA) hingga 24%. Saham SEMA melesat 24,8% ke Rp412, IFSH naik 24,8% ke Rp1.560, SOSS menguat 24,7% ke Rp1.385, dan BSWD melonjak 24,5% ke Rp2.310. Di antara saham LQ45, UNTR naik 3,28% ke Rp25.175.
Bank Mandiri (BMRI) juga mencatat kenaikan tipis 0,25% menjadi Rp4.030, didukung laba semester I yang tumbuh 24,4% mencapai Rp30,4 triliun. Bank ini juga akan membagikan dividen interim Rp66 per saham dengan total Rp6,16 triliun yang akan cair pada 2 Oktober.
Analisis teknikal dari Reliance Sekuritas menunjukkan bahwa IHSG membentuk candle bearish belt hold di bawah MA5, dengan indikator Stochastic death cross deep oversold. Area support berada di 6.091 dan resistance di 6.210. Indikator lain seperti RSI berada di 32,86 (netral), CCI -182 (Buy), Stochastic %K 7,08 (Strong Buy), dan MACD -65 (Sell). Meskipun rekomendasi secara keseluruhan adalah Sell, kondisi oversold yang parah mengindikasikan potensi technical rebound, karena indeks mendekati Lower Bollinger Band 6.206.
Pilarmas Sekuritas merekomendasikan investor untuk tetap cautious. Investor perlu mencermati kebijakan BEI harga Rp1, pergerakan rupiah, kondisi Wall Street, serta data ekonomi AS. Dengan IHSG yang sudah -28,90% YTD, potensi technical rebound tetap ada meski investor asing masih terus melakukan aksi jual. Pada Rabu, 30 September, pelaku pasar akan menanti rilis data inflasi AS dan keputusan review MSCI yang dijadwalkan hingga November.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.