JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Nilai tukar rupiah kembali jebol level psikologis, tembus angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (USD) pada Selasa, 29 September 2026. Data Google Finance pukul 17.35 WIB menunjukkan 1 USD setara Rp17.937,32. Namun, di pasar spot Bloomberg, rupiah sempat menyentuh Rp18.011 per USD.
Pelemahan ini memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan domestik. Angka tersebut menjadi puncak pergerakan negatif setelah sebelumnya rupiah sempat terpantau stabil di kisaran yang lebih rendah.
Rupiah Terjun Bebas: Pemicu Utama Pelemahan
Bank Indonesia (BI) melalui Kepala Departemen Moneter Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, ada tiga pemicu utama di balik jebolnya rupiah hari ini. Pertama, kenaikan harga minyak dunia yang menembus 108,7 dolar AS per barel.
Situasi ini terjadi setelah upaya mediasi Qatar terkait Selat Hormuz gagal, menyusul penolakan Amerika Serikat terhadap proposal Iran. Akibatnya, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 4,22% menjadi 96,31 dolar AS dan Brent melonjak 4,02% ke 108,50 dolar AS. Iran bahkan mengancam akan menutup selat tersebut, menambah tekanan pada beban impor energi Indonesia yang membutuhkan lebih banyak dolar.
Pemicu kedua adalah kenaikan yield US Treasury 10 tahun yang mencapai 5,23%, level tertinggi sejak 2007. Inflasi global dan risiko fiskal di AS memicu investor khawatir akan pengetatan kebijakan Federal Reserve. Indeks dolar AS (DXY) bertahan di 100,87, menunjukkan penguatan dolar yang membuat investor menarik modal dari pasar berkembang, termasuk Indonesia. Dampaknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini juga ikut tertekan, melemah 0,43% ke level 6.121.
Terakhir, kebutuhan valuta asing (valas) importir menjelang akhir kuartal III menjadi faktor penekan. Arus keluar portofolio dari aset emerging market juga memperparah kondisi. Hingga kini, terjadi net sell asing sebesar Rp104,83 triliun sepanjang tahun. Lukman Leong dari Doo Financial Futures menjelaskan, rupiah masih tertekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan imbal hasil obligasi AS yang tinggi. Ia memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.100 minggu ini.
Respons Pemerintah dan Prediksi Pasar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan terus memantau situasi. “Ya kita lihat saja, kita monitor. Kan fluktuasi itu sesuatu yang biasa ya,” ujarnya. Sementara itu, akademisi dari BRI Danareksa menyoroti bahwa tekanan domestik meningkat akibat tingginya permintaan valas importir dan berlanjutnya arus keluar modal.
Pelemahan rupiah ini berdampak langsung pada importir dan mereka yang melakukan perjalanan ke luar negeri, dengan biaya logistik dan inflasi impor yang berpotensi naik. Harga barang impor, seperti HP, juga diperkirakan akan terkerek jika rupiah terus bertahan di atas Rp18.000.
Josua Pardede, ekonom dari Permata Bank, memperingatkan bahwa risiko rupiah menyentuh Rp18.000 lagi masih tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Namun, ia menambahkan bahwa ini belum tentu menjadi keseimbangan baru mengingat BI memiliki kapasitas untuk intervensi dan menaikkan suku bunga jika diperlukan. Josua memprediksi akhir tahun 2026 akan tetap volatil.
NTV News memprediksi kisaran rupiah besok akan berada di Rp17.900 hingga Rp18.050. Analis pasar juga memperingatkan, jika harga minyak Brent tetap di atas 100 dolar AS per barel, rupiah berpotensi menguji level Rp18.100 lagi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.