Selasa, 29 September 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Saham GOTO ARB ke Rp37: Dari IPO Rp338 Anjlok 90%

Saham GOTO ARB ke Rp37
Saham GOTO ARB ke Rp37: Dari IPO Rp338 Anjlok 90%. Credit: Dok. JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) pada perdagangan hari ini, 29 September 2026, ditutup di level Rp37. Penurunan tajam 13,95% ini merupakan kali kedua beruntun setelah aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menghapus batas harga minimum saham Rp50 (gocap) mulai berlaku kemarin.

Kinerja GOTO hari ini tercatat stagnan di harga Rp37 sejak pembukaan, tidak bergerak naik sama sekali. Data menunjukkan bahwa harga pembukaan, tertinggi, dan terendah saham ini sama, mengindikasikan langsung ARB sejak menit pertama. Sebelumnya, saham GOTO telah lama terparkir di level gocap Rp50 sejak 5 Mei 2026, sebelum akhirnya jebol ke Rp43 pada Senin kemarin.

Anjlok Lebih 90% dari Harga IPO

Penurunan drastis ini membuat saham GOTO anjlok 89,05% dari harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp338 pada April 2022. Dalam waktu sekitar 4,5 tahun, nilai investasi pemodal yang membeli saat IPO telah terkikis habis. Market capitalization (kapitalisasi pasar) GOTO kini menyusut signifikan, hanya tersisa Rp42,20 triliun, jauh di bawah puncaknya saat IPO yang mencapai US$32 miliar atau sekitar Rp512 triliun.

Tekanan jual masif menjadi penyebab utama ARB beruntun ini. Pada pukul 09.05 WIB, antrean jual saham GOTO tercatat mencapai 840 juta lot di harga Rp37, dengan nilai total mencapai Rp3,1 triliun. Angka ini bahkan melonjak menjadi 878 juta lot pada sore hari, menurut data Bloomberg Technoz. Volume transaksi harian GOTO hanya sekitar Rp5 miliar dengan frekuensi 4.780 kali, menunjukkan ketidakseimbangan yang ekstrem antara penawaran dan permintaan.

Dampak Aturan Baru BEI dan Aksi Jual Investor

Penyebab utama anjloknya harga saham GOTO tak lepas dari keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00136/BEI/09-2026 yang menurunkan harga minimum saham pasar reguler dan tunai dari Rp50 menjadi Rp1. Aturan baru ini, berlaku efektif mulai 28 September 2026, juga menetapkan batas ARA (Auto Rejection Atas) dan ARB untuk saham di rentang harga Rp1-Rp10 sebesar Rp1. Sementara untuk saham di atas Rp10, batas ARB ditetapkan 15% hingga 31 Desember 2026, dan akan disimetriskan menjadi 35% mulai 1 Januari 2027.

Sebelum aturan ini berlaku, tekanan jual terhadap GOTO terakumulasi besar karena terhambat oleh batas gocap. Per 25 September, tercatat potensi tekanan jual hingga Rp1,97 triliun (setara 394 juta lot). Begitu batas bawah dilepas, tekanan jual yang tertahan ini langsung membanjiri pasar, menjebol harga GOTO ke level terendah sepanjang sejarah. “Potensi harga hingga Rp1 terbuka lebar jika antrean jual besar,” demikian laporan Bloomberg Technoz.

Selain aturan baru, aksi jual dari investor institusional juga menambah tekanan. FortuneIDN melaporkan bahwa Morgan Stanley telah melepas 450 juta lembar saham GOTO pada 23 September di harga Rp27, senilai Rp12,15 miliar. Meskipun Morgan Stanley sebelumnya sempat memborong, kini kepemilikannya menyusut menjadi 80,41 miliar saham atau sekitar 6,98% suara. Fenomena ini sejalan dengan tren investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp104,83 triliun secara year-to-date (YTD).

Kondisi ini bahkan menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut tertekan. IHSG sempat menyentuh level terendah 6.013 dengan penurunan 2,04% sebelum akhirnya ditutup di 6.121,70, minus 0,43%. GOTO menjadi salah satu saham pemberat utama indeks, bersama MORA, BBCA, FORU, dan TLKM.

Prospek Fundamental dan Rencana Korporasi

Secara fundamental, GOTO masih mencatatkan kerugian, dengan Earnings Per Share (EPS) yang miss sebesar -11,22%. Namun, sisi positifnya, pendapatan perusahaan pada Q2 2026 menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 30,6% secara year-on-year (YoY) menjadi Rp5,65 triliun, didorong oleh pertumbuhan segmen on-demand dan fintech.

Analis MNC Sekuritas Christian menggarisbawahi bahwa tekanan awal terhadap GOTO bukan berasal dari fundamental, melainkan lebih pada faktor teknikal dan rebalancing dana pasif dari indeks FTSE/MSCI yang sebelumnya terhambat aturan gocap. Menurutnya, setelah proses rebalancing selesai, arah pergerakan saham GOTO akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk mencapai profitabilitas.

Dalam upaya memperbaiki kinerja dan valuasi, GOTO juga akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Oktober 2026. Salah satu agenda penting yang akan dibahas adalah pembatalan 32 miliar saham treasuri, setara dengan 2,7% dari saham beredar, yang diharapkan dapat meningkatkan EPS.

Saham Eks Gocap Lain Ikut Terjun Bebas

Efek penghapusan batas gocap tidak hanya dirasakan oleh GOTO. Hari ini, tercatat 23 saham lain yang sebelumnya terparkir di level Rp50 juga mengalami ARB. Beberapa di antaranya adalah DADA, BABP yang turun 13,95% ke Rp37 dengan antrean jual 41 ribu lot, MDLN Rp37, HDIT, FORU, NETV, REAL, BCAP, ATLA, LIFE, dan LPKR. Total 417 saham di IHSG mengalami penurunan harga pada hari ini.

Bagi para trader, situasi ini menuntut kehati-hatian. Antrean jual GOTO yang mencapai 840 juta lot membutuhkan penyerapan dana sebesar Rp3,1 triliun. Jika tidak ada pembeli institusional besar yang masuk, potensi ARB berlanjut ke level Rp31-Rp36 sangat terbuka. Disarankan untuk menunggu volume transaksi yang lebih signifikan sebelum memutuskan untuk melakukan average down. Penting untuk diingat, investasi saham memiliki risiko tinggi, terutama pada saham dengan harga rendah, sehingga riset mandiri sangat diperlukan sebelum mengambil keputusan investasi.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair