Dilema Pendapatan Petani
Peningkatan produksi sebenarnya menjadi berkah. Sayangnya, kegembiraan itu terasa tanggung. Saat volume barang yang dijual meningkat, pendapatan petani semestinya ikut melonjak tajam. Faktanya, harga beli yang masih tertahan di kisaran Rp 2.800 per kilogram membuat margin keuntungan tetap tipis.
Mereka merasa hasil kerja keras di kebun tidak sebanding dengan nominal yang diterima saat transaksi di tingkat pengepul.
Situasi ini menciptakan beban pikiran baru. Petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk tenaga kerja pemanen, pupuk, hingga perawatan agar pohon tetap produktif. Tanpa kenaikan harga jual, biaya-biaya tersebut hampir menghabiskan seluruh sisa pendapatan dari kenaikan hasil panen.
Sekarang, mereka menggantungkan nasib pada intervensi pemerintah daerah maupun pihak terkait. Petani menginginkan adanya langkah konkret untuk memantau harga di tingkat lapangan, bahkan membuka akses pasar yang lebih luas agar mereka bisa mendapatkan harga lebih layak.
Upaya menjaga produktivitas lahan akan sia-sia jika harga jual tak kunjung menunjukkan tren positif yang memberikan ruang bagi petani untuk bernapas lega.
Keinginan mereka sebenarnya sederhana. Petani hanya ingin jerih payah merawat kebun membuahkan hasil yang bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan lebih baik.
Sampai ada kebijakan atau mekanisme pasar yang mengerek harga di Desa Arse Simatorkis, para petani harus tetap berjibaku dengan angka yang ada, sembari berharap hasil panen pada periode mendatang tidak lagi dihadapkan pada kebuntuan harga yang sama.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.