Kabut asap pekat mulai mengepung langit Pangkalan Bun, membuat jarak pandang di sekitar Bandara Iskandar merosot tajam. Kondisi ini memaksa sejumlah maskapai mengambil langkah darurat, mulai dari membatalkan jadwal terbang hingga memutar balik pesawat ke bandara asal demi keselamatan penumpang.
Penyebab utamanya jelas: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung padam di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Data terbaru menunjukkan luas lahan yang hangus terbakar telah mencapai 2.418,10 hektare. Angka yang fantastis. Di balik kehancuran lahan itu, satelit menangkap keberadaan 12.108 titik panas yang tersebar merata di berbagai penjuru wilayah.
Titik Api Terkonsentrasi
Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Samuel, mengungkapkan bahwa api paling agresif melahap vegetasi di dua kecamatan, yakni Arut Selatan dan Kumai. Petugas di lapangan saat ini bekerja ekstra keras, terutama di sepanjang ruas jalan penghubung Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama.
Pergerakan api cukup liar di sana. Mulanya, titik api hanya terlihat di Kilometer 14. Namun, amukan si jago merah tak berhenti. Api merambat cepat hingga mencapai Kilometer 27. Bukan cuma di jalan utama, tim pemadam juga harus berjibaku mematikan bara api di Desa Tanjung Terantang yang kini masuk dalam daftar titik krusial penanganan.
Medan yang berat dan tiupan angin membuat upaya pemadaman terasa seperti mengejar bayangan. Tim gabungan terus berupaya melokalisir api agar tidak terus meluas ke area permukiman atau aset vital lainnya. Meski begitu, asap yang dihasilkan dari ribuan hektare lahan terbakar tetap menjadi musuh utama yang sulit ditaklukkan.
Penerbangan Lumpuh
Dampak kabut asap ini tidak main-main bagi operasional Bandara Iskandar Pangkalan Bun. Asri Alie, Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Iskandar, menuturkan bahwa jarak pandang di area bandara sempat berada di bawah ambang batas aman, yakni di bawah 2.000 meter.
Situasi ini memaksa pesawat Batik Air dengan rute Jakarta-Pangkalan Bun membatalkan pendaratan. Pilot memutuskan untuk kembali ke bandara asal di Jakarta. Keputusan itu murni diambil demi keselamatan karena kondisi visual di landasan pacu benar-benar tidak memungkinkan untuk melakukan prosedur pendaratan yang aman.
Gangguan transportasi udara ini bukan kali pertama terjadi dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, pada Senin (28/9) sore, situasi serupa memaksa pihak maskapai membatalkan tiga penerbangan sekaligus dari Bandara Iskandar.
Rute Pangkalan Bun menuju Jakarta dengan nomor penerbangan ID 6203, rute Pangkalan Bun-Surabaya (ID 6134), serta rute Pangkalan Bun-Semarang (ID 6303) terpaksa dicoret dari jadwal harian.
Pembatalan terjadi karena asap yang menggantung sejak pagi hari tidak kunjung menipis. Asri Alie mengakui bahwa operasional bandara kini sangat bergantung pada dinamika cuaca dan intensitas karhutla yang terjadi di sekitar kawasan bandara.
Saat ini, pihak pengelola bandara terus memantau data meteorologi setiap saat. Mereka tidak ingin mengambil risiko dengan memaksakan penerbangan di tengah kepungan asap. Harapan besar kini digantungkan pada keberhasilan tim di darat untuk menjinakkan api.
Asri menegaskan, satu-satunya cara untuk mengembalikan mobilitas masyarakat melalui jalur udara adalah dengan menghentikan karhutla yang masih terus menyala.
Pihak BPBD dan tim terkait masih bertahan di lapangan. Mereka terus berpatroli dan memadamkan api yang muncul, meski kelelahan mulai menyergap para personel. Belum ada kepastian kapan kondisi udara di Pangkalan Bun akan kembali normal, mengingat luasnya lahan yang terdampak membuat potensi titik api baru tetap tinggi jika tidak segera diantisipasi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.