“Dengan bekal pengetahuan serta keterampilan yang memadai, Redkar diharapkan mampu mengambil langkah awal yang tepat sebelum penanganan lebih lanjut dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran,” ujar Gerry.
Jembatan antara warga dan pemerintah
Redkar juga berperan sebagai jembatan komunikasi. Mereka menyampaikan informasi potensi kebakaran dari masyarakat kepada pemerintah, dan menyebarkan edukasi dari pemerintah kepada warga.
Tanpa Redkar, informasi tentang kebakaran mungkin hanya tahu Dinas Pemadam Kebakaran setelah panggilan darurat masuk. Dengan Redkar, pemerintah dapat proaktif—mengirim edukasi lebih dalam ke komunitas, menyiapkan strategi pencegahan yang lebih spesifik sesuai risiko lokal.
Pemerintah Kabupaten Sarolangun berkomitmen memperkuat sinergi antara petugas Damkar, Redkar, pemerintah desa, dan masyarakat. Semakin kuat jaringan ini, semakin solid pertahanan terhadap kebakaran.
“Semakin cepat informasi diterima dan semakin siap masyarakat menghadapi kondisi darurat, maka risiko kebakaran dan dampaknya dapat ditekan,” tambah Gerry.
Pengabdian yang perlu dijaga
Redkar adalah sukarelawan. Mereka tidak dibayar gaji tetap, tapi meluangkan waktu dan tenaga demi keselamatan masyarakat. Gerry mengakui pengorbanan itu dan berharap semangat mereka terus terpelihara.
Misi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Sarolangun sendiri tidak terbatas pada pemadaman api saja. Mereka juga menjalankan edukasi pencegahan, simulasi kebakaran, dan layanan penyelamatan untuk masyarakat. Redkar adalah mitra essensial dalam misi tiga pilar itu.
Dengan apresiasi yang diberikan kemarin, Wabup mengingatkan bahwa kerja relawan tidak hanya dihargai, tapi juga menjadi bagian integral dari strategi keamanan Sarolangun menghadapi ancaman kebakaran.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.