SEMARANG — Kebakaran di TPA Jatibarang pada Rabu (30/9) masih menyisakan penderitaan bagi ribuan warga sekitar. Meski api sudah mulai padam, asap tebal terus membumbung dan menciptakan kabut yang menyengat seluruh wilayah sekitarnya.
Hingga Kamis (1/10) pukul 08.30, warga masih merasakan dampak langsung. Kabut asap tidak hanya mengganggu penglihatan, tetapi juga menciptakan bau menyengat yang sulit dihilangkan dari pakaian bahkan seluruh lingkungan rumah.
Ardian Dwi Kurnia, salah satu warga yang terdampak, berbagi pengalamannya. Dia terpaksa mengenakan masker setiap kali beraktifitas di luar rumah untuk melindungi diri dari asap.
“Bau sangit, iya ada asap kabut tipis,” ujar Ardian kepada kumparan, Kamis (1/10). “Baunya nempel di baju, ini saya bawa baju ganti. Semoga bapak-bapak damkar tetap semangat dan dimudahkan tugasnya.”
Dampak kebakaran ini menjangkau lebih luas dari perkiraan awal. Puji Utami, warga Sadeng Gunungpati yang jaraknya cukup jauh dari lokasi TPA, juga ikut merasakan gangguan. Pagi itu, asap tebal memenuhi lingkungannya hingga alat pemurni udara di rumahnya menunjukkan indikator warna merah—tanda kualitas udara yang sangat buruk.
“Pagi ini kabut asap, lumayan tebal. Cukup menganggu. Indikator di air purifier saya juga merah,” imbuh Puji.
Instruksi Pengamanan dari RT Setempat
Merespons situasi darurat, pengurus RT setempat langsung mengeluarkan instruksi pencegahan kepada seluruh warga. Mereka diminta untuk mengenakan masker saat berada di luar rumah demi menjaga kesehatan pernapasan.
Langkah lebih serius juga diambil untuk mengantisipasi kasus medis. “Diinstruksikan kalau ada yang terdampak kabut sampai sesak nafas bisa langsung ke puskesmas,” jelas Puji.
Damkar Turunkan Puluhan Petugas
Untuk mengatasi bencana ini, Dinas Damkar Semarang tidak berkompromi. Kepala Operasi dan Penyelamatan Damkar Semarang Tantri Pradono menegaskan bahwa puluhan petugas telah diturunkan ke lokasi untuk memadamkan api.
“Masih terus kami lakukan penanangan. Sudah mulai padam tidak besar apinya yang tersisa hanya titik titik kecil. Tapi asapnya masih tebal, mengepul,” ungkap Tantri.
Luas area yang terbakar mencapai 10 hektare. Api muncul di zona 1, 2, dan 3 dari TPA tersebut, membuat proses pemadaman memerlukan waktu yang lebih panjang dan sumber air yang cukup besar.
Tantri menjelaskan bahwa setiap zona yang terbakar harus disemprot air sampai ke bagian terdalam untuk memastikan api benar-benar padam. Proses ini membutuhkan waktu yang tidak dapat diprediksi dengan pasti, namun pihak damkar berkomitmen untuk menyelesaikannya secepat mungkin.
“Jadi ini juga harus disemprot air sampai dalam-dalamnya, keseluruhan. Butuh proses, jangka waktunya belum tahu tapi kami terus usahakan, kami lakukan secepatnya. Mohon doa dari masyarakat,” kata Tantri.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.