BANDUNG — PT Angkasa Pura Indonesia menanggung kerugian sekitar Rp 40 miliar dalam dua hari akibat penutupan bandara-bandara utama ketika abu vulkanik Anak Krakatau menyebar ke berbagai wilayah pada 5-8 September 2026. Penutupan total Bandara Soekarno-Hatta adalah yang pertama dalam sejarah 35 tahun sejak bandara tersebut beroperasi.
Direktur Operasi Angkasa Pura, Agus Haryadi, mengungkapkan fakta ini saat hadir dalam diskusi di Bandung, Jawa Barat, Jumat (2/10). Meski menanggung kerugian besar, Agus menekankan keputusan penutupan bandara adalah prioritas keselamatan, bukan pertimbangan finansial.
“Kalau ngomong rugi, rugi Pak, banyak ruginya. Rp 40 miliar ada kali Pak dalam dua hari itu. Nah, tapi tentu kami tidak memikirkan itu,” kata Agus.
Penutupan Pertama dalam Tiga Dekade
Abu vulkanik dari Anak Krakatau menyebar hingga menjangkau Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Husein Sastranegara Bandung, dan Bandara Tanjung Karang. Bandara di Lampung lebih dulu ditutup, diikuti Soekarno-Hatta mulai 6 September 2026. Penutupan Bandara Halim Perdanakusuma juga dilakukan sebagai respons.
Agus menyebut penutupan total Soekarno-Hatta sebagai “sejarah” yang belum pernah dialaminya. Bahkan saat pandemi COVID-19, bandara terbesar Indonesia tersebut tetap beroperasi dengan status terbuka penuh.
“Di situlah sejarah terjadi. Sepanjang saya bekerja di Soekarno-Hatta dari tahun 1992, artinya sudah 35 tahun, belum pernah mengalami penutupan bandara secara total. Covid pun tidak tutup, Pak,” ujarnya tegas.
Dampak ke Lebih dari 200 Ribu Penumpang
Dampak penutupan tersebut jauh melampaui operasional bandara semata. Soekarno-Hatta sendirian melayani sekitar 1.000 pergerakan pesawat dan 130 ribu penumpang setiap hari. Dengan ditambahnya penutupan bandara lainnya, total penumpang yang terdampak diperkirakan melebihi 200 ribu orang.
“Bisa membayangkan ketika Soekarno-Hatta tertutup, itu bukan hanya Soekarno-Hatta. Bagaimana penumpang yang stranded, bagaimana penumpang yang akan menuju ke Soekarno-Hatta, itu luar biasa dampaknya,” papar Agus.
Penumpang yang tertahan menghadapi situasi penuh ketidakpastian. Terminal dipenuhi ribuan orang mencari informasi dan alternatif penerbangan. Angkasa Pura langsung mengaktifkan posko sesuai standar operasional prosedur setelah mengetahui potensi penyebaran abu vulkanik, kemudian menutup bandara setelah BMKG memastikan hasil pemeriksaan abu vulkanik positif.
Respons Darurat dan Akomodasi Penumpang
Selama penutupan berlangsung, Angkasa Pura menyiapkan beberapa langkah tanggapan. Bus disediakan untuk memobilisasi penumpang ke bandara alternatif di Pulau Jawa—Solo, Yogyakarta, dan Surabaya. Penumpang yang tertahan diakomodasi di fasilitas employee lounge milik Angkasa Pura.
Situasi yang paling menantang terjadi ketika sekitar 200 jemaah umrah dari berbagai daerah, termasuk dari Palangkaraya, sudah telanjur tiba di bandara tanpa bisa melanjutkan penerbangan. Mereka turut dirawat di fasilitas akomodasi yang sama.
“Terhadap penumpang yang ada di terminal, kami berikan makanan kecil, air minum, dan lain sebagainya. Alhamdulillah responsnya cukup baik dari para penumpang,” kata Agus mengenai tindakan mitigasi yang dilakukan.
Agus menekankan bahwa keputusan penutupan adalah keharusan demi keselamatan. “Penutupan ini bukan opsi. Memang harus dilakukan. Alasan pertamanya adalah alasan keselamatan, karena ini nyawa orang yang kita handle,” ujarnya, menunjukkan bahwa meski Angkasa Pura mencatat kerugian moneter besar, prioritas tetap pada perlindungan penerbang dan penumpang di udara.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.