NEW YORK, JOURNALARTA.COM – Harga diesel di Amerika Serikat (AS) melonjak hingga mencapai rekor tertinggi, tembus $6,53 per galon pada Selasa, 30 September 2026. Angka ini naik drastis 24 sen dalam seminggu dan 88 sen selama empat minggu terakhir. Di California, harga bahkan menyentuh $8,246 per galon, meskipun harga minyak mentah Brent sempat turun ke $97,36 per barel.
Kenaikan fantastis ini terjadi di tengah pasokan stok distillate AS yang menipis, berada 14% di bawah rata-rata lima tahun terakhir. Krisis ini bukan dipicu kelangkaan minyak mentah, melainkan minimnya kapasitas kilang global untuk mengolahnya menjadi diesel.
Sederet Pemicu Lonjakan Harga Diesel Global
Data terbaru menunjukkan harga diesel ritel AS (AAA) mencapai $6,529-$6,53 per galon, naik sekitar $1 dalam empat minggu dan melonjak 74-76% secara tahunan dibandingkan $3,69 per galon setahun lalu. Minyak mentah Brent kini diperdagangkan di $103,60 per barel (+1,00%), sementara WTI di $91,31 per barel (+2,16%). Angka crack spread diesel, yang mencerminkan margin keuntungan kilang, juga mencapai rekor $110,77 per barel.
Beberapa faktor kunci mendorong krisis ini, seperti dijelaskan oleh EIA dan Reuters:
Pertama, kapasitas kilang dunia yang terganggu. Serangan Ukraina terhadap kilang Rusia dilaporkan menyebabkan kerugian 1% PDB Rusia, mengurangi produksi. Konflik di Timur Tengah, khususnya pemulihan jalur Hormuz yang baru mencapai 80% dari kapasitas normal 17 juta barel per jam (bph) menjadi 13,2 juta bph, juga berkontribusi. Secara umum, kapasitas kilang global memang sudah menipis sejak pandemi Covid-19 akibat minimnya investasi baru.
Kedua, stok distillate yang sangat rendah di AS. Produksi distillate AS sebesar 5,1 juta bph tidak mampu mengimbangi rekor ekspor 1,74 juta bph dalam dua bulan terakhir. Impor yang nyaris nihil membuat stok terus menurun dan tak ada lagi cadangan.
Ketiga, keputusan China dan Rusia menghentikan ekspor. China menangguhkan ekspor produk BBM mulai Oktober 2026 untuk mengamankan pasokan domestik. Rusia memperpanjang larangan ekspor diesel hingga akhir Oktober, dan Presiden Putin bahkan menyatakan pada 2 Oktober bahwa Rusia tidak akan memasok diesel sampai sanksi dicabut. Kebijakan ini membuat Eropa, yang sangat bergantung pada diesel AS, kalang kabut.
Keempat, Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS yang menipis. Pemerintah AS telah menjual 40 juta barel terakhir dari SPR, sehingga kini tersisa 284 juta barel. Angka ini merupakan yang terendah sejak 1982 dan mendekati batas legal 252 juta barel. SPR hampir kehilangan kekuatannya untuk menahan harga.
Kelima, kenaikan harga bahan bakar jet. Diesel dan avtur adalah hasil olahan yang mirip (middle distillate). Ketika kilang dipaksa memproduksi lebih banyak diesel, pasokan avtur berkurang, menyebabkan harganya melonjak mendekati level tertinggi sejak konflik Iran. Maskapai penerbangan AS terancam merugi lagi, padahal baru saja pulih dari musim panas.
Debat Larangan Ekspor Diesel di AS
Di tengah krisis ini, muncul perdebatan politik tentang potensi larangan ekspor diesel di AS. Senator Iowa Chuck Grassley mendesak Donald Trump untuk memberlakukan larangan ekspor diesel sementara, dengan harapan menurunkan crack spread dan harga domestik sebelum pemilihan umum paruh waktu pada 3 November.
Trump sendiri menyatakan sedang mempertimbangkan keputusan tersebut. Namun, Menteri Energi Chris Wright menolak gagasan tersebut, beralasan bahwa larangan ekspor hanya akan menimbulkan efek bumerang. Jika AS melarang ekspor, Eropa akan kekurangan pasokan, mendorong harga global naik, dan pada akhirnya AS juga akan merasakan dampaknya.
Dampak ke Indonesia: Inflasi dan Tekanan Rupiah
Kenaikan harga diesel global tidak dapat dihindari akan berdampak signifikan bagi Indonesia. Harga solar industri dan Dexlite berpotensi kembali naik, mengikuti acuan harga di Singapura yang sejalan dengan kenaikan Brent menjadi $103 per barel.
Rupiah juga tertekan, dengan nilai tukar Rp17.966 terhadap dolar AS. Ini terjadi karena meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk impor energi. Lebih lanjut, inflasi pangan diprediksi akan naik seiring kenaikan ongkos transportasi truk, traktor, dan kapal ikan yang menggunakan solar. Situasi ini menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena subsidi solar yang perlu ditingkatkan.
Proyeksi Harga dan Fokus Pasar
Analis TradingNews pada 1 Oktober memproyeksikan harga minyak Brent akan bergerak di kisaran $100-$108 per barel dengan kecenderungan naik, sementara WTI di $88-$95 per barel. Target Brent $105 per barel masih realistis. Namun, jika terjadi eskalasi risiko seperti serangan terhadap pipa Saudi East-West atau pelabuhan Yanbu, harga Brent bisa kembali ke $115 per barel.
Fokus pasar saat ini tertuju pada beberapa peristiwa penting. Pada Jumat, 2 Oktober, rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) AS dapat memengaruhi probabilitas kenaikan suku bunga The Fed, yang berpotensi memperkuat dolar dan membuat minyak semakin mahal bagi negara importir. Pada 6 Oktober, hasil tender SPR sebesar 40 juta barel akan diamati. Jika penawaran lemah, harga dapat melonjak. Pertemuan OPEC+ juga diperkirakan akan mempertahankan tingkat produksi pada November.
Intinya, dunia saat ini tidak kekurangan minyak mentah, melainkan kekurangan kapasitas kilang untuk mengolahnya menjadi solar. Selama konflik dan larangan ekspor berlanjut, harga diesel $6,53 per galon kemungkinan akan menjadi “normal baru”, dan hal ini akan memicu kenaikan harga berbagai komoditas secara global, termasuk di Indonesia.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.