Di tengah krisis ini, muncul perdebatan politik tentang potensi larangan ekspor diesel di AS. Senator Iowa Chuck Grassley mendesak Donald Trump untuk memberlakukan larangan ekspor diesel sementara, dengan harapan menurunkan crack spread dan harga domestik sebelum pemilihan umum paruh waktu pada 3 November.
Trump sendiri menyatakan sedang mempertimbangkan keputusan tersebut. Namun, Menteri Energi Chris Wright menolak gagasan tersebut, beralasan bahwa larangan ekspor hanya akan menimbulkan efek bumerang. Jika AS melarang ekspor, Eropa akan kekurangan pasokan, mendorong harga global naik, dan pada akhirnya AS juga akan merasakan dampaknya.
Dampak ke Indonesia: Inflasi dan Tekanan Rupiah
Kenaikan harga diesel global tidak dapat dihindari akan berdampak signifikan bagi Indonesia. Harga solar industri dan Dexlite berpotensi kembali naik, mengikuti acuan harga di Singapura yang sejalan dengan kenaikan Brent menjadi $103 per barel.
Rupiah juga tertekan, dengan nilai tukar Rp17.966 terhadap dolar AS. Ini terjadi karena meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk impor energi. Lebih lanjut, inflasi pangan diprediksi akan naik seiring kenaikan ongkos transportasi truk, traktor, dan kapal ikan yang menggunakan solar. Situasi ini menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena subsidi solar yang perlu ditingkatkan.
Proyeksi Harga dan Fokus Pasar
Analis TradingNews pada 1 Oktober memproyeksikan harga minyak Brent akan bergerak di kisaran $100-$108 per barel dengan kecenderungan naik, sementara WTI di $88-$95 per barel. Target Brent $105 per barel masih realistis. Namun, jika terjadi eskalasi risiko seperti serangan terhadap pipa Saudi East-West atau pelabuhan Yanbu, harga Brent bisa kembali ke $115 per barel.
Fokus pasar saat ini tertuju pada beberapa peristiwa penting. Pada Jumat, 2 Oktober, rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) AS dapat memengaruhi probabilitas kenaikan suku bunga The Fed, yang berpotensi memperkuat dolar dan membuat minyak semakin mahal bagi negara importir. Pada 6 Oktober, hasil tender SPR sebesar 40 juta barel akan diamati. Jika penawaran lemah, harga dapat melonjak. Pertemuan OPEC+ juga diperkirakan akan mempertahankan tingkat produksi pada November.
Intinya, dunia saat ini tidak kekurangan minyak mentah, melainkan kekurangan kapasitas kilang untuk mengolahnya menjadi solar. Selama konflik dan larangan ekspor berlanjut, harga diesel $6,53 per galon kemungkinan akan menjadi “normal baru”, dan hal ini akan memicu kenaikan harga berbagai komoditas secara global, termasuk di Indonesia.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.