Jumat, 2 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Harga Pangan Hari Ini 2 Oktober 2026: Cabai Rawit Merah Tembus Rp96.300 – Rp100.650/kg & Telur Rp28.550, Beras Stabil

Harga Pangan Hari Ini
Harga Pangan Hari Ini 2 Oktober 2026: Cabai Rawit Merah Tembus Rp96.300 – Rp100.650/kg & Telur Rp28.550, Beras Stabil. Credit: Dok. JournalArta

Kabar baik datang dari Jawa Barat. Per 2 Oktober 2026, harga semua varian beras di Jawa Barat terpantau tetap stabil. Beras Super I menjadi yang termahal dengan harga Rp17.450/kg, sementara Beras Bawah II menjadi yang termurah di Rp14.100/kg. Beras Medium I berada di angka Rp15.850/kg, dan Bawah I di Rp14.650/kg.

Untuk komoditas bawang di Jawa Barat, terjadi sedikit penurunan. Bawang merah sedang turun Rp400 (1,17%) menjadi Rp33.700/kg, sedangkan bawang putih sedang turun Rp250 (0,66%) menjadi Rp37.850/kg. Kestabilan harga beras di Jawa Barat ini diperkirakan karena pasokan yang aman menjelang akhir tahun, didukung oleh masuknya hasil panen raya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Disparitas Harga di Daerah: Gorontalo Jadi Contoh

Meskipun ada data nasional, disparitas harga antar daerah masih terlihat jelas. Di Pasar Talumopatu Bone Bolango, Gorontalo, pada 2 Oktober, harga cabai merah keriting mencapai Rp90.000/kg, naik Rp5.000 dari sebelumnya Rp85.000/kg. Cabai rawit merah bahkan bertahan di Rp140.000/kg, jauh lebih mahal dari rata-rata nasional PIHPS yang Rp96.300/kg. Bawang merah di Gorontalo justru turun menjadi Rp35.000 dari Rp37.667. Beras IR 64 medium dan SPHP Bulog juga stabil di Rp15.000 dan Rp12.000.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa faktor distribusi dan permintaan lokal sangat mempengaruhi harga di tingkat daerah. Untuk masyarakat Gorontalo, harga cabai yang sangat tinggi ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam memenuhi kebutuhan dapur.

Mengapa Harga Cabai Masih Melambung Tinggi?

Kenaikan harga cabai yang persisten ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, cuaca ekstrem dan kendala distribusi akibat hujan lebat yang melanda sentra produksi seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara pada akhir September. Kerusakan jalan di jalur distribusi juga memperparah kondisi pasokan.

Kedua, faktor spekulasi dan peningkatan permintaan menjelang Hari Batik Nasional serta libur panjang akhir pekan (long weekend) turut mendorong kenaikan harga. Permintaan yang meningkat, ditambah pasokan yang terganggu, menciptakan tekanan harga yang signifikan. Ketiga, tingginya disparitas harga antar daerah, seperti yang terlihat di Gorontalo, menunjukkan bahwa masalah pasokan dan distribusi belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu, harga beras yang cenderung turun dapat dikaitkan dengan intervensi Bulog yang masih menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) seharga Rp12.000/kg, serta keberlanjutan panen gadu di beberapa wilayah.

Untuk menghadapi fluktuasi harga pangan ini, masyarakat bisa mempertimbangkan beberapa strategi belanja. Mengganti cabai rawit merah dengan rawit hijau yang lebih murah (Rp61.300/kg vs Rp96.300/kg) dapat menghemat sekitar Rp35.000/kg. Memilih beras medium I Jawa Barat seharga Rp15.850/kg daripada Super I seharga Rp17.450/kg juga bisa menghemat Rp1.600/kg. Telur ayam ras yang stabil di Rp28.550/kg tetap menjadi sumber protein termurah dibandingkan daging ayam (Rp41.000) dan sapi (Rp150.200). Menggunakan minyak goreng curah Rp20.250/liter dibandingkan kemasan Rp23.950/liter dapat menghemat Rp3.700/liter, dengan catatan penyaringan yang tepat. Konsumen juga disarankan untuk secara rutin mengecek PIHPS BI dan Panel Harga Pangan NFA pada pukul 10:00 dan 15:00 WIB untuk mendapatkan informasi harga terbaru dan menghindari praktik harga “getok”.

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair