WASHINGTON, JOURNALARTA.COM – Federal Reserve (The Fed) tampaknya memberikan sinyal kuat untuk menahan kenaikan suku bunga pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) 27-28 Oktober 2026. Dua pejabat berpengaruh The Fed, John Williams dan Philip Jefferson, menyatakan tidak ada urgensi untuk segera menaikkan suku bunga. Pernyataan ini sontak membuat peluang kenaikan bunga di bulan Oktober anjlok dari 70,9% menjadi sekitar 23-25%.
Sinyal dovish ini datang setelah pasar global dihantui kenaikan yield US Treasury 10 tahun yang menyentuh 5,24%, level tertinggi dalam 24 tahun terakhir, serta menguatnya indeks dolar AS (DXY) ke 102,10. Pernyataan dari figur kunci The Fed ini diharapkan membawa angin segar bagi pasar keuangan.
Sinyal ‘Tidak Buru-buru’ dari Pejabat The Fed
John Williams, Presiden Federal Reserve New York dan Wakil Ketua FOMC, dalam pidatonya di University at Buffalo pada Selasa, 30 September 2026, menegaskan bahwa tidak ada kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga saat ini. “Dengan tindakan kebijakan yang kami ambil pada pertemuan September, tidak ada kebutuhan mendesak, dan kami punya waktu untuk mengumpulkan lebih banyak informasi,” ujarnya.
Williams menambahkan, jika perekonomian berkembang sesuai perkiraannya, satu penyesuaian kenaikan lagi mungkin tepat di akhir tahun ini untuk mendukung kembalinya inflasi ke target lebih tepat waktu. Hal ini mengindikasikan kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi, namun kemungkinan besar bukan di bulan Oktober, melainkan Desember. Williams memproyeksikan inflasi akan mencapai 3,5% pada akhir 2026, lalu turun sedikit di atas 2% pada 2027, dan kembali ke target 2% pada 2028.
Senada dengan Williams, Wakil Ketua The Fed, Philip Jefferson, pada Kamis malam, 1 Oktober 2026, menyatakan bahwa ia dan rekan-rekannya memerlukan waktu lebih untuk menilai kondisi ekonomi. “Rekan-rekan saya dan saya perlu membuat penilaian kami sendiri, yang mungkin memerlukan lebih banyak waktu,” kata Jefferson. Ia mencatat bahwa kenaikan yield obligasi di semua tenor sejak September adalah tanda investor sedang menilai ulang prospek ekonomi. Pernyataan keduanya diperkuat oleh Michelle Bowman, Wakil Ketua Pengawas The Fed, yang juga menyatakan tidak melihat kebutuhan mendesak untuk tindakan lebih lanjut.
Peluang Kenaikan Bunga Anjlok Drastis
Pernyataan dari ketiga pejabat ini mengubah secara drastis ekspektasi pasar. Data dari CME FedWatch Tool dan Polymarket menunjukkan penurunan signifikan peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin pada FOMC 27-28 Oktober 2026. Pada Senin, 29 September, peluang ini masih berada di 70,9%. Setelah pernyataan Williams pada Selasa, angka tersebut turun menjadi 44-50%. Puncak penurunan terjadi setelah pidato Jefferson, di mana peluang kenaikan bunga di Oktober kini hanya berkisar 23-26%.
Sebaliknya, peluang kenaikan suku bunga pada FOMC Desember 2026 justru meningkat signifikan, dari 39% menjadi 63,2%. Ini menunjukkan pasar kini lebih memperkirakan The Fed akan menahan diri di Oktober dan baru akan menaikkan suku bunga sekali lagi di Desember.
Faktor di Balik Sinyal Dovish The Fed
Pergeseran sentimen The Fed ini dipengaruhi oleh beberapa data ekonomi penting. Pertama, inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) Agustus berada di 3,4% year-on-year, tidak lebih buruk dari bulan Juli, memberikan sedikit ruang bagi The Fed untuk tidak panik. Kedua, indeks kepercayaan konsumen (Consumer Confidence) yang dirilis Conference Board AS anjlok 6,7 poin dari 88,6 menjadi 81,9 pada September, level terendah sejak April 2014, jauh di bawah ekspektasi 89,0. Ketiga, data lowongan kerja (JOLTS) Agustus menunjukkan penurunan 256.000 menjadi 7,079 juta, mengindikasikan pasar tenaga kerja mulai mendingin.
Meski demikian, sebagian pejabat masih bersikap hawkish. Lorie Logan dari Dallas Fed, anggota voting FOMC, menyatakan bahwa setidaknya dibutuhkan kenaikan 50 basis poin lagi untuk mengembalikan inflasi ke target, menyebut kenaikan September sebagai ‘langkah pertama’. Ini menunjukkan bahwa komite FOMC masih terpecah.
Selain itu, kenaikan yield US Treasury 10 tahun yang menyentuh 5,24% juga menjadi pertimbangan. Kenaikan yield ini terjadi di tengah data ekonomi AS yang kuat dan lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Israel versus Iran yang berlanjut, serta pengerahan kapal induk ketiga oleh AS. Kondisi pasar yang sudah mengetat secara otomatis melalui yield obligasi tinggi ini mengurangi kebutuhan The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Dampak ke Pasar Global dan Indonesia
Sinyal dovish dari The Fed segera direspons positif oleh pasar. Wall Street pada 1 Oktober malam langsung rebound, dengan Dow Jones naik 0,04%, S&P 500 naik 0,20%, dan Nasdaq naik 0,04%. Pasar Asia juga menunjukkan performa cemerlang pagi ini, 2 Oktober, dengan Nikkei Jepang melonjak 3,3% dan Kospi Korea naik 1,95%.
Untuk Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pagi ini masih terkoreksi 0,38% ke 5.986, berpotensi mengalami rebound jika sentimen Fed yang dovish ini bertahan, dengan target uji resisten 6.020-6.040. Sementara itu, nilai tukar rupiah menguat tipis ke Rp17.945 per dolar AS, naik 22 poin. Penguatan ini dibantu oleh harapan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga di Oktober, meskipun dolar AS (DXY) masih stagnan di level tinggi 102,10 dan harga minyak tetap menjadi bayang-bayang.
Jika The Fed benar-benar menahan kenaikan suku bunga di Oktober, tekanan jual oleh investor asing di pasar saham Indonesia bisa mereda, mendorong mereka kembali masuk ke pasar negara berkembang. Hal ini juga akan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk tidak terburu-buru menaikkan BI Rate, sehingga bisa fokus menjaga stabilitas ekonomi domestik. Pemerintah juga akan mendapatkan keuntungan dari potensi penurunan yield SBN, yang akan meringankan biaya utang di tengah kebutuhan ruang fiskal untuk stimulus seperti bansos beras dan BSU.
Pasar akan mencermati hasil data non-farm payrolls (NFP) AS September malam ini, 2 Oktober, yang diperkirakan akan menunjukkan penambahan 90.000 pekerjaan dengan tingkat pengangguran 4,1%. Jika data ini lemah, peluang The Fed untuk menahan kenaikan suku bunga di Oktober akan semakin kuat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.