JAKARTA — buku anak berkulit hitam di Inggris turun 7,8% dalam setahun terakhir, menurut riset Inclusive Books for Children yang menyoroti masih timpangnya representasi di penerbitan anak. Dari 2.189 judul untuk usia di bawah 10 tahun yang terbit pada 2025, hanya 47 buku atau 2,1% yang menampilkan karakter utama kulit hitam.
Angka itu kontras dengan proporsi anak kulit hitam yang disebut mencapai sekitar 8,5% dari kelompok usia tersebut di Inggris dan Wales. Riset yang sama juga mencatat hanya 150 buku, atau 6,9% dari total yang disurvei, menampilkan karakter utama dari latar etnis minoritas, disabilitas, atau neurodivergen.
Buku anak berkulit hitam dan jurang representasi
Data ini penting bukan cuma untuk penerbit, tapi juga untuk keluarga, guru, dan pembaca muda yang tumbuh bersama buku. Saat sebuah pasar buku menampilkan jauh lebih sedikit tokoh yang mencerminkan kehidupan anak-anak di dunia nyata, pesan yang terbaca sederhana: tidak semua pengalaman diberi ruang yang sama.
Dalam laporan itu, representasi tokoh utama Asia Selatan turun 14,3 poin persentase menjadi 1,4%, padahal anak berlatar Asia Selatan disebut mencapai sekitar 12,4% dari populasi usia di bawah 10 tahun.
Untuk latar Timur Tengah dan Afrika Utara, atau MENA, hanya ada tiga buku, turun 50% dari tahun sebelumnya. Itu setara 0,1% dari buku yang disurvei, jauh di bawah porsi kelompok tersebut yang disebut 2,2% dari populasi.
Riset juga menemukan bahwa dari 150 buku yang menampilkan karakter utama dari latar minoritas etnis, disabilitas, atau neurodivergen, sebanyak 37,3% ditulis atau diilustrasikan oleh kreator yang tidak memiliki latar belakang serupa dengan karakter mereka. Angka ini memberi gambaran lain: soal siapa yang bercerita, bukan cuma siapa yang muncul di halaman.
Suara penulis dan pegiat literasi
Penulis Sheena Patel menekankan bahwa anak-anak butuh buku yang dekat dengan hidup mereka sekaligus membuka imajinasi. Ia mengatakan, “At an age when children are figuring out the world around them and where they fit in, it’s vital they have access to funny, inspiring, adventurous books that reflect both the lives they live and the ones they don’t. We must do better.”
Pernyataan itu nyambung dengan temuan lain dalam laporan ini: masih ada ketergantungan pada cerita di mana identitas tokoh menjadi inti konflik atau inti plot. Dr Stella Louis, konsultan, pelatih, dan penulis awal usia, menyebut ada “continued reliance” pada buku seperti itu.
Ia bertanya, “Why can’t a child simply be south Asian, disabled, neurodivergent or bilingual and also be the hero of an ordinary story about friendship, adventure, loss or joy?”
Pertanyaan itu terasa tajam. Soalnya, bagi pembaca muda, buku bukan sekadar hiburan. Buku juga cermin. Kalau cerminnya sempit, anak yang membuka halaman-halaman itu bisa merasa dirinya hadir hanya sebagai pengecualian, bukan bagian dari cerita utama.
Dampaknya ke industri buku dan pembaca
Di titik ini, dampak ke industri penerbitan jadi jelas. Penerbit yang hanya mengandalkan pola lama berisiko kehilangan relevansi di tengah pembaca yang makin beragam. Sementara itu, perpustakaan, sekolah, dan orang tua ikut terdorong untuk memilih judul yang lebih luas dalam mewakili latar, bahasa, disabilitas, dan pengalaman hidup anak-anak.
Laporan tersebut juga menyorot buku-buku dengan tokoh MENA. Ketiga buku yang terbit pada 2025 dengan tokoh utama MENA semuanya berupa narasi pengungsi. Menurut para penulis studi, anak-anak berlatar MENA membutuhkan kisah yang menjangkau tema lebih luas dan pengalaman yang lebih beragam.
Nadine Kaadan, penulis Arab, mengatakan, “As an Arab author, it is painful to see the number of children’s fiction books representing our region decline from six to only three in 2025,” seraya menambahkan bahwa fakta semua judul itu berfokus pada pengalaman pengungsi berisiko memperkuat “single story” tentang kawasan tersebut, yakni mendefinisikannya lewat “war and displacement rather than our rich cultures and heritage”.
Di sisi lain, laporan ini tidak sepenuhnya gelap. Representasi neurodivergen di picture books naik dari tiga judul pada 2024 menjadi 13 pada tahun lalu. Di kategori bayi dan balita, jumlah buku dengan karakter utama dari kelompok yang termarjinalkan naik 29,4%. Ada gerak maju, walau belum merata.
Jack Hope, konsultan buku anak, menilai angka-angka ini harus dibaca sebagai dorongan perubahan, bukan sekadar statistik.
Ia berkata, “When children’s enjoyment of reading is at a significant low, it’s more important than ever that the stories children encounter reflect their lives, identities, experiences and emotions.” Ia menambahkan, “These figures need to be more than mere statistics and a call to action for continued change and improvements.”
Kalimat terakhir itu menjadi inti persoalan. Bagi penerbit, pertanyaannya kini bukan hanya berapa banyak buku yang terbit, melainkan siapa yang benar-benar terlihat di dalamnya. Dan bagi anak-anak, jawabannya dibaca dari halaman pertama.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.