Senin, 5 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Data Center Oracle 1,3 GW di Wisconsin Terancam Delay Listrik

Pembangunan gedung data center besar yang sedang dikerjakan dengan crane
Proyek pembangunan fasilitas data center yang sedang berjalan di Amerika Serikat. (Ilustrasi: AI)

PORT WASHINGTON — Proyek pembangunan kampus pusat data kecerdasan buatan (AI) milik Oracle berkapasitas 1,3 GW di Wisconsin, Amerika Serikat, menghadapi kendala serius terkait pasokan listrik. Proses tinjauan regulasi yang harus diulang menyebabkan jadwal operasional penuh proyek yang dikenal sebagai Project Lighthouse ini berisiko molor jauh melampaui target tahun 2027.

Kampus yang berlokasi di Port Washington ini dikembangkan oleh Vantage untuk Oracle dengan rencana pembangunan empat gedung pusat data. Meski konstruksi fisik di lapangan berjalan stabil, fasilitas tersebut belum bisa melayani kebutuhan pelanggan dalam skala besar tanpa infrastruktur transmisi listrik yang mendapatkan izin resmi dari regulator.

Masalah bermula ketika American Transmission Company (ATC) mengajukan permohonan pembangunan jalur listrik tegangan tinggi ke Public Service Commission (PSC) Wisconsin pada September 2025.

Namun, selama periode Januari hingga Juli 2026, ATC melakukan perubahan signifikan pada rencana proyek tersebut. Pihak pengembang mengajukan 564 dokumen tambahan yang mencakup perubahan rute, penambahan jalur bypass sementara, serta pembaruan estimasi biaya.

Ketidakpastian ini membuat PSC menarik temuan kelengkapan dokumen pada Agustus 2026. Keputusan tersebut diambil karena banyaknya tambahan dokumen yang masuk tidak memungkinkan dilakukannya tinjauan lingkungan tepat waktu sesuai tenggat hukum yang berlaku.

Akibatnya, pada 10 September 2026, PSC menutup kasus tersebut tanpa mengeluarkan putusan. ATC kemudian mengajukan permohonan baru pada 18 September 2026, yang otomatis memulai kembali hitungan durasi tinjauan regulasi dari awal.

Implikasi Bagi Operasional dan Pasokan Energi

Kondisi ini menjadi peringatan nyata bagi industri pusat data mengenai pentingnya kesiapan infrastruktur utilitas.

Head of Data Center Research dari Aterio, Javier Reyes, mengungkapkan bahwa meski pekerjaan fisik terus berlangsung, ketergantungan pada proses regulasi yang kini harus diulang menjadi hambatan utama.

Pembangunan fisik di lokasi sudah cukup maju, di mana citra satelit bulan September menunjukkan dua gedung utama telah tertutup atap, sementara instalasi peralatan di dalam gedung terus berlanjut.

Secara teknis, kampus ini memiliki total kebutuhan listrik mencapai 1,3 GW, dengan beban IT sebesar 902 MW. Selisih angka tersebut mencakup kebutuhan sistem pendingin serta konsumsi energi pendukung lainnya di luar peralatan komputasi utama. Sebelumnya, Vantage telah menjajaki kemungkinan pasokan awal sebesar 310 MW pada tahun 2027.

Namun, dengan adanya pengulangan tinjauan regulasi, akses listrik parsial kini berpotensi baru tersedia pada Juni 2028. Sementara itu, ketersediaan daya penuh sebesar 1,3 GW diperkirakan baru akan tercapai pada April 2029.

Reyes menegaskan bahwa berdasarkan catatan publik yang ada, terdapat risiko nyata bahwa beban listrik akan tiba jauh lebih lambat dari panduan awal yang diberikan oleh Oracle.

Bagi konsumen yang mengandalkan infrastruktur ini untuk beban kerja AI skala besar, keterlambatan ini menuntut penyesuaian strategi implementasi di masa mendatang.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 5 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis