Jumat, 2 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Diesel AS Pecah Rekor $6,53/Galon: Stok Terendah Sejarah, Brent Balik $103,60, Krisis Kilang Global Ancam Inflasi

Diesel AS Pecah Rekor
Diesel AS Pecah Rekor $6,53/Galon: Stok Terendah Sejarah, Brent Balik $103,60, Krisis Kilang Global Ancam Inflasi. Credit: Dok. JournalArta

NEW YORK, JOURNALARTA.COM – Harga diesel di Amerika Serikat (AS) melonjak hingga mencapai rekor tertinggi, tembus $6,53 per galon pada Selasa, 30 September 2026. Angka ini naik drastis 24 sen dalam seminggu dan 88 sen selama empat minggu terakhir. Di California, harga bahkan menyentuh $8,246 per galon, meskipun harga minyak mentah Brent sempat turun ke $97,36 per barel.

Kenaikan fantastis ini terjadi di tengah pasokan stok distillate AS yang menipis, berada 14% di bawah rata-rata lima tahun terakhir. Krisis ini bukan dipicu kelangkaan minyak mentah, melainkan minimnya kapasitas kilang global untuk mengolahnya menjadi diesel.

Sederet Pemicu Lonjakan Harga Diesel Global

Data terbaru menunjukkan harga diesel ritel AS (AAA) mencapai $6,529-$6,53 per galon, naik sekitar $1 dalam empat minggu dan melonjak 74-76% secara tahunan dibandingkan $3,69 per galon setahun lalu. Minyak mentah Brent kini diperdagangkan di $103,60 per barel (+1,00%), sementara WTI di $91,31 per barel (+2,16%). Angka crack spread diesel, yang mencerminkan margin keuntungan kilang, juga mencapai rekor $110,77 per barel.

Beberapa faktor kunci mendorong krisis ini, seperti dijelaskan oleh EIA dan Reuters:

Pertama, kapasitas kilang dunia yang terganggu. Serangan Ukraina terhadap kilang Rusia dilaporkan menyebabkan kerugian 1% PDB Rusia, mengurangi produksi. Konflik di Timur Tengah, khususnya pemulihan jalur Hormuz yang baru mencapai 80% dari kapasitas normal 17 juta barel per jam (bph) menjadi 13,2 juta bph, juga berkontribusi. Secara umum, kapasitas kilang global memang sudah menipis sejak pandemi Covid-19 akibat minimnya investasi baru.

Kedua, stok distillate yang sangat rendah di AS. Produksi distillate AS sebesar 5,1 juta bph tidak mampu mengimbangi rekor ekspor 1,74 juta bph dalam dua bulan terakhir. Impor yang nyaris nihil membuat stok terus menurun dan tak ada lagi cadangan.

Ketiga, keputusan China dan Rusia menghentikan ekspor. China menangguhkan ekspor produk BBM mulai Oktober 2026 untuk mengamankan pasokan domestik. Rusia memperpanjang larangan ekspor diesel hingga akhir Oktober, dan Presiden Putin bahkan menyatakan pada 2 Oktober bahwa Rusia tidak akan memasok diesel sampai sanksi dicabut. Kebijakan ini membuat Eropa, yang sangat bergantung pada diesel AS, kalang kabut.

Keempat, Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS yang menipis. Pemerintah AS telah menjual 40 juta barel terakhir dari SPR, sehingga kini tersisa 284 juta barel. Angka ini merupakan yang terendah sejak 1982 dan mendekati batas legal 252 juta barel. SPR hampir kehilangan kekuatannya untuk menahan harga.

Kelima, kenaikan harga bahan bakar jet. Diesel dan avtur adalah hasil olahan yang mirip (middle distillate). Ketika kilang dipaksa memproduksi lebih banyak diesel, pasokan avtur berkurang, menyebabkan harganya melonjak mendekati level tertinggi sejak konflik Iran. Maskapai penerbangan AS terancam merugi lagi, padahal baru saja pulih dari musim panas.

Debat Larangan Ekspor Diesel di AS

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair