Sejumlah pengunjung di Lapangan Panahan Gelora Pakansari, Kabupaten Bogor, mendadak berkerumun. Mereka bukan sedang melihat atlet memanah, melainkan tertuju pada seekor sapi Madura asal Boyolali yang tampil beda. Hewan ternak ini punya keanehan fisik yang mencolok: total kakinya ada enam.
Sapi fenomenal ini tampil percaya diri dalam ajang Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026 yang dihelat pada Senin, 5 Oktober 2026. Berkat keunikan fisiknya, juri sepakat memberikan gelar juara pertama untuk kategori sapi unik.
Pemiliknya, Femas Candra, sengaja memboyong hewan kesayangannya itu langsung dari Boyolali, Jawa Tengah, menempuh perjalanan darat yang tidak singkat demi unjuk gigi di pentas nasional.
Magnet Perhatian di Pakansari
Kehadiran sapi berkaki enam itu praktis mengubah suasana kontes. Orang-orang yang tadinya fokus pada sapi-sapi berotot besar langsung beralih pandangan. Mereka penasaran bagaimana posisi kaki tambahan tersebut menempel di tubuh sang sapi. Femas mengaku membawa satwanya bukan cuma demi piala.
Ia ingin publik tahu bahwa anomali genetik pada hewan ternak bisa menjadi daya tarik tersendiri, bahkan diapresiasi dalam sebuah kompetisi bergengsi.
Femas tak menyangka respons publik akan seantusias ini. “Bersyukur sekali bisa menang, apalagi persaingan di kelas unik ini cukup ketat karena banyak sapi dengan karakteristik fisik langka lainnya,” ujarnya di sela-sela acara.
Sepanjang hari, ia harus meladeni pertanyaan pengunjung yang datang dari berbagai pelosok negeri, mulai dari Lampung, Kalimantan, hingga peternak lokal dari Jawa Timur dan Jawa Barat.
Kontes ini bukan sekadar pamer fisik hewan. Ajang yang diinisiasi oleh APPSI ini memang didesain untuk menjadi pertemuan akbar peternak profesional se-Indonesia. Lapangan Pakansari seolah menjadi etalase hidup. Berbagai jenis ras sapi dipajang, masing-masing dengan keunggulannya sendiri. Peternak dari ujung Sumatera sampai pedalaman Jawa saling bertukar cerita tentang suka duka membesarkan ternak.
Ruang Inovasi Peternak Lokal
Pemerintah Kabupaten Bogor sendiri melihat gelaran ini sebagai peluang emas untuk memetakan potensi peternakan nasional. Bagaimanapun, industri ternak lokal punya kekuatan besar jika dikelola dengan serius. Lewat pertemuan di Bogor ini, para peternak bisa saling intip rahasia dapur.
Mereka membahas mulai dari pola pemberian pakan, strategi perawatan rutin, hingga teknik pengembangan genetik yang lebih efisien.
Bagi pelaku industri, perhelatan ini membuktikan bahwa ternak lokal punya harga diri. Keunikan fisik seperti yang dimiliki sapi asal Boyolali tersebut memberikan nilai tambah yang tak bisa diukur dengan daging saja. Ada nilai ekonomi, ada juga kebanggaan daerah. Tren ini perlahan mulai bergeser dari sekadar kuantitas menjadi soal kualitas bibit dan keunggulan genetik.
Persaingan di lapangan memang makin sengit tiap tahun. Para peternak dituntut lebih kreatif. Mereka tak bisa lagi sekadar mengandalkan metode konvensional jika ingin ternaknya dilirik pasar atau menjuarai kontes level presiden.
Femas dan sapi enam kakinya menjadi contoh nyata bagaimana peternak kecil dari daerah bisa mencuri perhatian nasional lewat dedikasi dan ketelatenan dalam memelihara ternak yang tidak biasa.
Ke depan, ajang seperti ini diharapkan tetap konsisten sebagai wadah stimulan. Jika kualitas bibit di daerah terus meningkat, ketergantungan pada bibit impor semestinya bisa ditekan. Para peternak kini pulang dengan membawa ilmu baru dan jaringan yang lebih luas.
Mereka sudah punya rencana untuk mengembangkan kualitas ternaknya di kampung halaman masing-masing setelah melihat langsung standar juara di Pakansari.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.