Dengan angka API di kisaran 111-181, kualitas udara di banyak wilayah Malaysia telah masuk kategori Tidak Sehat, mengindikasikan bahwa kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan akan lebih rentan mengalami gejala.
Penyebab dan Langkah Mitigasi
Laporan resmi menyebutkan bahwa kabut asap ini sebagian besar disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Indonesia. Asap dari kebakaran tersebut terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di Semenanjung Malaysia, diperparah oleh kondisi cuaca kering dan minimnya curah hujan selama musim peralihan monsun. Situasi ini mirip dengan kejadian kabut asap pada September tahun sebelumnya.
Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan. Penggunaan masker N95 sangat disarankan jika harus beraktivitas di luar, karena masker kain kurang efektif menyaring partikel PM2.5. Penting juga untuk menjaga hidrasi tubuh dengan minum air putih yang cukup, serta menutup pintu dan jendela rumah untuk mencegah masuknya polutan. Jika memungkinkan, gunakan pembersih udara di dalam ruangan. Warga dianjurkan untuk memantau pembaruan kualitas udara melalui situs resmi apims.doe.gov.my atau aplikasi MyCuaca, dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala seperti mata perih, batuk, atau sesak napas.
Hingga saat ini, Kementerian Pendidikan Malaysia masih memantau situasi. Penutupan sekolah biasanya dilakukan jika angka API melebihi 200, atau masuk kategori Sangat Tidak Sehat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.