Selasa, 6 Oktober 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Norwegia Lapor Gianni Infantino ke Komite Etik FIFA, Tuduh Abuse of Power

Norwegia Lapor Gianni Infantino ke Komite Etik FIFA
Norwegia Lapor Gianni Infantino ke Komite Etik FIFA, Tuduh Abuse of Power. Credit: Dok. JournalArta

OSLO, JOURNALARTA.COM – Asosiasi Sepak Bola Norwegia (NFF) secara resmi mengajukan dua laporan formal terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino ke Komite Etik dan Komite Tata Kelola, Audit, dan Kepatuhan (GACC) FIFA pada Selasa, 6 Oktober 2026. Laporan ini menuduh Infantino menyalahgunakan kekuasaan dan memiliki konflik kepentingan, dengan mengidentifikasi tiga kasus utama yang disebut NFF memiliki benang merah dengan mantan Presiden AS Donald Trump.

Lise Klaveness, Presiden NFF sekaligus legenda timnas Norwegia, menyatakan bahwa FIFA sedang menghadapi salah satu krisis terbesarnya. Klaveness mendesak adanya perubahan struktur atau mekanisme kerja FIFA untuk memastikan akuntabilitas. NFF sendiri memiliki reputasi sebagai juara tata kelola yang baik di dunia sepak bola.

Laporan NFF: Dugaan Pelanggaran Etik dan Tata Kelola

Pengajuan laporan NFF ke dua komite FIFA ini menandai serangan formal paling keras yang pernah dilakukan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino. Laporan pertama, yang ditujukan kepada Kamar Investigasi Komite Etik FIFA yang dipimpin Martin Ngoga dari Rwanda, meminta agar Komite meninjau perilaku Infantino serta individu lain yang teridentifikasi, terkait potensi pelanggaran Kode Etik FIFA.

Sementara itu, laporan kedua yang ditujukan kepada GACC, mempertanyakan apakah proses tata kelola, pengawasan keuangan, kontrol internal, dan pengambilan keputusan di FIFA telah berjalan sesuai ketentuan. Dalam pernyataannya, NFF menegaskan tujuan laporan ini adalah untuk memastikan bukti relevan diperoleh dan akuntabilitas dicapai atas kesimpulan yang nanti ditetapkan.

Tiga Skandal dengan Benang Merah Trump

Dalam wawancara eksklusif dengan The Times, Lise Klaveness menjelaskan bahwa ketiga kasus yang dilaporkan sangat berbeda, namun memiliki kesamaan yang perlu diperiksa: dugaan penyalahgunaan kekuasaan, penyalahgunaan posisi, dan pelanggaran netralitas politik. Klaveness secara eksplisit menyebutkan bahwa ada garis yang menghubungkan ketiga kasus ini, dan semuanya terkait dengan “rezim politik” yang sama, merujuk pada Donald Trump.

1. FIFA Peace Prize untuk Donald Trump

Pada 8 Desember 2025, saat undian Piala Dunia 2026 di Washington D.C., Infantino secara mendadak menciptakan dan menganugerahkan “FIFA Peace Prize” kepada Presiden AS saat itu, Donald Trump. Penghargaan baru ini diberikan tanpa konsultasi atau persetujuan dari FIFA Council, dan tanpa dasar dalam Statuta FIFA.

FairSquare, sebuah LSM hak asasi manusia dari Inggris, telah mengajukan keluhan ke Komite Etik pada 8 Desember 2025, menuduh Infantino melanggar Pasal 15 Kode Etik FIFA mengenai netralitas politik. NFF juga mendukung surat tersebut. Respons FIFA saat itu menyatakan keluhan telah diterima namun tidak membuka investigasi, dengan alasan kerahasiaan. Klaveness menyatakan bahwa surat mereka “telah dikirim, dan menyebabkan beberapa reaksi politik. Tapi itu sudah terkirim.” Infantino memang dikenal memiliki kedekatan dengan Trump, seringkali terlihat berfoto bersama.

2. Pencabutan Suspensi Folarin Balogun di Piala Dunia 2026

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda