Sabtu, 1 Agustus 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Ancaman Boikot Piala Dunia: Eropa Lawan Rencana Komersialisasi FIFA

Bola sepak di atas rumput stadion megah sebagai simbol industri sepak bola
Konflik FIFA dan konfederasi Eropa terkait rencana komersialisasi memicu ancaman boikot Piala Dunia di masa depan. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Perselisihan besar melanda sepak bola dunia. Konfederasi sepak bola Eropa, UEFA, secara resmi melayangkan ancaman untuk memboikot turnamen Piala Dunia pria maupun wanita di masa depan. Langkah ekstrem ini diambil sebagai bentuk protes terhadap rencana FIFA untuk membentuk subsidi komersial baru, FIFA Forward Enterprise (FFE).

Ketegangan memuncak setelah FIFA mengungkapkan proposal FFE pada 28 Juli. Rencana tersebut melibatkan pembentukan entitas komersial senilai $20 miliar di bawah kendali FIFA.

Rencananya, FIFA akan menjual saham minoritas kepada investor luar, dengan Thrive Capital sebagai pihak yang disebut-sebut akan memimpin kelompok investor tersebut.

Proyek ini bertujuan mengumpulkan dana hingga $4,2 miliar, di mana setiap dari 211 asosiasi anggota FIFA dijanjikan pembayaran hingga $40 juta.

Dinamika Kekuasaan dan Uang

Banyak asosiasi kecil memang bergantung pada pendanaan FIFA untuk operasional dasar, seperti pengembangan sepak bola usia dini dan program kepelatihan. Namun, cara FIFA menyodorkan tawaran ini menuai kritik tajam.

FIFA menetapkan batas waktu 19 September bagi anggota untuk menerima kesepakatan tersebut, dengan syarat dukungan mencapai 75 persen. Gianni Infantino sempat menaikkan penawaran dari $20 juta menjadi $40 juta hanya dalam sehari setelah munculnya gelombang protes.

UEFA menyebut pola ini sebagai tata kelola melalui intimidasi, bukan diskusi yang sah. Mereka menilai FIFA memanfaatkan ketergantungan finansial asosiasi-asosiasi kecil untuk memuluskan agenda komersial mereka sebelum pihak-pihak terkait sempat melakukan kajian mendalam. UEFA menegaskan sikap tegas mereka melalui pernyataan resmi bahwa selama Eropa memiliki suara, suara tersebut tidak akan dijual.

Dampak dari manuver ini sangat luas bagi masa depan sepak bola internasional. Kehilangan partisipasi tim-tim Eropa yang telah memenangkan 13 dari 23 gelar Piala Dunia pria sejak 1930 akan menjadi pukulan telak bagi prestise turnamen tersebut.

Selain UEFA, konfederasi lain seperti CONCACAF juga mengkritik kurangnya prosedur yang transparan, sementara komisaris olahraga Uni Eropa, Glenn Micallef, secara terbuka meminta FIFA untuk menjauh dari upaya komersialisasi berlebihan ini.

Konsekuensi bagi Sepak Bola Global

Bagi pembaca di Indonesia dan pelaku industri sepak bola secara luas, perseteruan ini mencerminkan pertarungan antara nilai tradisi olahraga dengan ambisi finansial murni. FIFA sendiri berpendapat bahwa rencana ini adalah peluang, bukan kewajiban, dan membantah narasi bahwa sepak bola sedang dijual.

Namun, pengunduran diri Carlos Cordeiro dari posisi penasihat senior FIFA menambah bumbu panas pada konflik internal ini, di mana ia menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah buruk bagi masa depan jangka panjang sepak bola dunia.

Sementara itu, FIFA tengah mencatatkan rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah. Pendapatan siklus 2023–2026 diproyeksikan melampaui $15 miliar, hampir dua kali lipat dari siklus Qatar 2022.

Dengan target ambisius tersebut, Infantino bahkan dikabarkan tengah mempelajari kemungkinan perluasan Piala Dunia 2030 dari 48 menjadi 64 tim.

Kini, dunia sepak bola menanti apakah deadline 19 September akan memicu perpecahan permanen atau justru kompromi baru yang akan mengubah wajah organisasi sepak bola global selamanya.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda