JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Dunia saat ini sedang merayakan World Space Week (WSW) 2026 yang berlangsung dari tanggal 4 hingga 10 Oktober. Perayaan sains dan teknologi antariksa terbesar di Bumi ini ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum PBB 54/68 tahun 1999, dengan Indonesia turut serta aktif dalam berbagai kegiatan.
Pekan Antariksa Dunia bertujuan mengedukasi masyarakat tentang manfaat teknologi antariksa, mendorong pemanfaatannya untuk ekonomi, serta mempromosikan kerja sama internasional dan literasi STEM (Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika). WSW diperingati setiap 4-10 Oktober untuk mengenang dua peristiwa bersejarah: peluncuran Sputnik 1 pada 4 Oktober 1957, satelit buatan pertama Uni Soviet yang menandai awal era antariksa; serta berlakunya Outer Space Treaty pada 10 Oktober 1967, perjanjian internasional yang melarang penempatan senjata nuklir di antariksa dan klaim atas Bulan.
Tema Rocket Revolution 2026: Mengubah Akses Antariksa
Tahun ini, WSW mengusung tema “Rocket Revolution”, berbeda dengan tema tahun sebelumnya. Tema ini menyoroti pergeseran dramatis dalam akses ke antariksa. Dahulu terbatas pada program pemerintah, kini akses tersebut meluas melalui penyedia peluncuran komersial, roket yang dapat digunakan kembali, tim universitas, perusahaan rintisan, dan pemain antariksa nasional baru.
Perubahan ini, seperti diungkapkan oleh PBB dan World Space Week Association (WSWA), mengubah siapa yang dapat mencapai antariksa, seberapa sering peluncuran terjadi, dan untuk apa antariksa digunakan. Fokus utama tema ini adalah pengembangan roket reusable, seperti SpaceX Starship Flight 14 yang baru diluncurkan pada 28 September 2026, dan upaya dari pemain baru seperti ULA Vulcan. Biaya peluncuran juga semakin murah, dari sekitar $20.000/kg menjadi $1.500/kg, membuka era komersialisasi antariksa. World Space Week Association (WSWA) dan UNOOSA mengumumkan tema ini, dengan CEO United Launch Alliance (ULA), Tory Bruno, sebagai Honorary Chair 2026.
Partisipasi Indonesia dalam Pekan Antariksa Dunia 2026
Indonesia menunjukkan partisipasinya melalui berbagai kegiatan, salah satunya dari Badan Riset & Inovasi Nasional (BRIN). Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) BRIN, Ega Asti Anggari, menjelaskan fleksibilitas satelit untuk navigasi, komunikasi di daerah terpencil, pemantauan cuaca, mitigasi bencana, hingga deteksi kebakaran hutan. Data satelit Terra & Aqua dimanfaatkan untuk atmosfer, darat, dan laut, serta untuk sektor maritim dan pertanian, seperti pemetaan zona ikan dan pemantauan padi palawija.
Sejarah antariksa Indonesia sendiri mencatat peluncuran Palapa-A1 pada tahun 1976, satelit pertama Indonesia yang krusial bagi negara kepulauan. Selain BRIN, International Seminar on Aerospace Science and Technology (ISAST) 2026 juga menjadi wadah penting. Acara ini mempresentasikan 91 makalah full dari 88 presentasi dalam tujuh ruang sidang paralel, membahas topik mulai dari roket propulsi, drone UAV, rekayasa satelit, penginderaan jauh, cuaca antariksa, hingga astrofisika. ISAST juga menampilkan Aerospace Innovation Challenge yang diikuti 166 karya mahasiswa dari 26 negara dan 5 benua, mengangkat tema Next-Gen Skies. Sementara itu, komunitas seperti Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) dan berbagai institusi pendidikan seperti ITB juga menggelar kegiatan seperti lomba cepat tepat astronomi dan aktivitas planetarium.
Relevansi Rocket Revolution bagi Indonesia
Tema “Rocket Revolution” sangat relevan bagi Indonesia. Dengan rencana pembangunan spaceport di Biak dan munculnya startup roket nasional, kebutuhan akan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang STEM semakin mendesak. Pemanfaatan satelit komunikasi untuk internet desa, siaran televisi, dan ekonomi digital juga menjadi pendorong utama. Inspirasi datang dari sejarah; jika dulu akses antariksa hanya dikuasai Amerika Serikat dan Uni Soviet, kini bahkan mahasiswa pun dapat meluncurkan CubeSat mereka sendiri.
Sisa Pekan Antariksa Dunia 2026 dari 6-10 Oktober masih menawarkan berbagai agenda. BRIN akan mengadakan webinar yang dapat dipantau melalui akun media sosial @brin_indonesia. Sementara itu, Kition Planetarium Cyprus akan menyelenggarakan kegiatan tentang Rocket Staging & Propellants serta observasi teleskop Saturnus pada 8 Oktober. Penutupan global pada 9-10 Oktober akan diisi dengan peluncuran roket DIY dan observasi matahari. Informasi lebih lanjut mengenai event terdekat dapat diakses melalui worldspaceweek.org/nation/Indonesia.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.