SANTO DOMINGO — Kemenangan Haiti 4-1 atas Republik Dominika kini berimbas pada pemain dan warga Haiti yang tinggal di negara tetangganya. Ucapan penyerang Wilson Isidor seusai laga di Santo Domingo memicu ketegangan, sementara Menteri Olahraga Republik Dominika Kelvin Cruz menyatakan tim Haiti tak akan lagi diizinkan bermain di negara itu.
Isidor berteriak, “L’Hispaniola c’est Haiti! This is Haiti!” setelah pertandingan. Hispaniola adalah pulau Karibia yang dihuni Haiti dan Republik Dominika. Cruz mengumumkan larangan itu pada Jumat, tetapi tidak secara langsung menyebut ucapan Isidor sebagai alasan.
Ucapan Isidor dan respons pemerintah
Cruz menuduh suporter Haiti merusak fasilitas stadion. Saat dihubungi pada Senin, ia hanya mengatakan tetap berpegang pada pengumumannya. Pemerintah Republik Dominika juga menggunakan semprotan merica terhadap warga Haiti yang masuk ke stadion pada Kamis; sebagian warga Dominika justru menyalahkan pemerintah mereka karena dinilai gagal mengendalikan kerumunan.
Pada Sabtu, Federasi Sepak Bola Republik Dominika mengajukan pengaduan resmi kepada CONCACAF, badan sepak bola kawasan Amerika Utara, Tengah, dan Karibia. Juru bicara CONCACAF belum segera menanggapi permintaan komentar.
Federasi Sepak Bola Haiti menyatakan mendukung para pemainnya. Dalam pernyataan yang dikutip Associated Press, federasi menyebut ucapan Isidor sebagai ekspresi keterikatan pada akar dan identitasnya. “Keterikatan pada Haiti ini tidak dapat ditafsirkan sebagai tanda permusuhan atau sikap tidak hormat terhadap bangsa atau negara lain,” kata federasi.
Federasi itu juga mengingatkan bahwa persaingan olahraga tidak semestinya menghapus rasa saling menghormati. Namun, ucapan singkat setelah pertandingan itu telah beredar luas di media sosial, tempat pengguna memperdebatkan sejarah dan makna pernyataan Isidor.
Laga berlangsung menjelang peringatan pembantaian
Waktu pertandingan menambah beban sejarah. Laga berlangsung sehari sebelum peringatan ke-89 Pembantaian Parsley, ketika diktator Republik Dominika Rafael Trujillo memerintahkan pembunuhan ribuan warga Haiti di sepanjang perbatasan kedua negara.
Seorang suporter mengangkat poster berbahasa Kreol Haiti untuk mengenang korban yang gugur pada 2 Oktober 1937. Bagi sebagian penonton, pertandingan itu bukan sekadar persaingan di lapangan, melainkan juga ruang untuk menyuarakan ingatan kolektif.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.