Rabu, 7 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Tangan Bionik Dikendalikan Otak, Teknologi untuk Amputasi

Tangan bionik dengan sensor otot membantu menggerakkan prostesis
Sensor pada rompi membaca kontraksi otot dada untuk menggerakkan tangan buatan. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Tangan bionik yang mengikuti perintah otak membantu Jesse Sullivan kembali mengambil benda dengan gerakan yang terasa lebih alami. Teknologi ini memanfaatkan saraf yang dialihkan ke otot dada, lalu membaca sinyal otot untuk menggerakkan tangan buatan.

Sullivan kehilangan kedua lengannya akibat kecelakaan kabel listrik di kampung halamannya, Dayton, Tennessee. Ia menggunakan dua prostesis dengan sistem kendali berbeda: satu digerakkan lewat sakelar di dagu dan rompi, sedangkan perangkat lainnya menangkap sinyal dari otot dada.

Bagi orang yang kehilangan anggota tubuh, perbedaan itu terasa nyata dalam kegiatan sehari-hari. Sullivan mengatakan tangan buatan dengan kendali listrik dapat mengambil benda kecil, termasuk koin, dari lantai atau meja. Gerakannya juga membantu saat ia hendak meraih benda berbentuk bulat.

Tangan bionik membaca sinyal dari otot dada

Teknik tersebut dikembangkan oleh Dr. Todd Kuiken dan rekan-rekannya di Rehabilitation Institute of Chicago. Dokter bedah mengalihkan ujung saraf yang sebelumnya mengendalikan lengan Sullivan ke otot di dadanya. Saraf itu kemudian tumbuh ke dalam otot dan membentuk jalur baru bagi sinyal dari otak.

Ketika Sullivan membayangkan menutup tangan, saraf yang sebelumnya mengirim perintah ke tangan membuat bagian otot dadanya berkontraksi. Kontraksi itu menghasilkan sinyal listrik yang dideteksi sensor kecil di dalam rompi penyangga. Sistem lalu menerjemahkan sinyal tersebut menjadi gerakan pada tangan atau siku buatan.

“Jadi dia berpikir ‘tutup tangan’, otot berkontraksi, tangan buatan menutup,” kata Kuiken. Ia menggambarkan prosedur itu sebagai upaya menyambungkan kembali jalur kendali tubuh. Otot berfungsi sebagai penguat biologis bagi sinyal saraf yang sebelumnya menuju lengan.

Sullivan menjelaskan bahwa ia membayangkan tangannya masih ada, lalu menggunakan bayangan gerak siku dan tangan untuk mengendalikan prostesis. Perintah yang terasa langsung itu berbeda dari penggunaan sakelar mekanis. Namun perangkatnya belum sempurna; Sullivan datang ke Chicago untuk penyesuaian pada pemasangan prostesis.

Lebih mandiri, tetapi kendali masih dikembangkan

Manfaatnya bukan sekadar gerakan yang lebih intuitif. Sullivan mengatakan prostesis baru membuatnya mampu melakukan lebih banyak hal sendiri. Untuk benda yang agak berat, kait mekanis pada perangkat lama bisa kesulitan mengangkatnya dan membuka kembali saat batas kemampuannya terlampaui. Tangan dengan kendali listrik memberinya pilihan gerak yang berbeda.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 7 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis