Perlombaan AI Amerika Serikat dan China bukan soal siapa yang lebih dulu membuat satu model canggih. Pakar AI Matt Sheehan mengatakan, AS diperkirakan memimpin kemampuan model terdepan sekitar enam hingga sembilan bulan, tetapi belum jelas negara mana yang lebih berhasil memakai AI untuk mendorong ekonomi dan riset.
Penilaian itu disampaikan Sheehan dalam wawancara di FP Live, program Foreign Policy, bersama Ravi Agrawal. Sheehan adalah peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace dan turut memimpin inisiatif AI China di lembaga tersebut. Ia pernah tinggal dan bekerja di China selama enam tahun.
Perbedaan antara kemampuan model dan penerapan AI menjadi kunci untuk memahami persaingan kedua negara. Keunggulan di laboratorium belum otomatis berarti manfaat ekonomi yang lebih besar, sementara gagasan tentang “kemenangan” jangka panjang masih diperdebatkan.
AI AS-China: unggul di model, belum tentu di ekonomi
Sheehan membedakan perlombaan AI menjadi dua ukuran. Pertama, kemampuan membangun model paling kuat dan canggih, yang kerap disebut kemampuan terdepan. Kedua, seberapa luas teknologi itu digunakan dalam perekonomian, misalnya untuk mendukung pertumbuhan, penemuan obat, atau penelitian ilmiah.
Menurut Sheehan, posisi AS lebih jelas pada ukuran pertama. Perkiraan yang ia sampaikan adalah keunggulan sekitar enam hingga sembilan bulan. Artinya, model China diperkirakan dapat menyamai kemampuan model perusahaan AS seperti Anthropic atau OpenAI dalam rentang waktu itu.
Namun, jaraknya tidak besar dan penyebab China mampu mendekat belum terjawab. Sheehan menyebut masih ada pertanyaan terbuka tentang apakah perusahaan China menyalin model AS dengan cara yang tidak sah atau berhasil mengejar melalui kekuatan riset mereka sendiri. Wawancara itu tidak menetapkan jawaban atas pertanyaan tersebut.
Ukuran kedua jauh lebih sulit dipastikan. Data tentang pemanfaatan AI di ekonomi tersebar dan belum terkumpul dalam satu pangkalan data terpusat, sehingga dampaknya tidak mudah dibandingkan secara langsung. Sheehan mengatakan belum tampak bukti AI mendorong angka pertumbuhan China, sementara di AS dampak yang terlihat lebih banyak berkaitan dengan pembangunan pusat data dan kapasitas komputasi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.