Jumat, 9 Oktober 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Anggapan Wanita Tak Pernah Salah Ternyata Benar, Ustaz Maulana Buktikan Pakai Dalil

Ustaz Maulana membahas tanggung jawab rumah tangga di podcast
Suasana studio podcast menjadi latar pembahasan Ustaz Maulana tentang peran suami dan istri. (Ilustrasi: AI)

Urusan memasak dan membereskan rumah kerap dianggap sebagai tugas istri. Ustaz Maulana justru menyampaikan pandangan berbeda tentang tanggung jawab rumah tangga saat menjadi tamu podcast PWK bersama Gofar Hilman.

JAKARTA — Dalam podcast yang dipandu Gofar Hilman itu, Ustaz Maulana menjelaskan bahwa tanggung jawab utama rumah tangga berada pada suami sebagai kepala keluarga. Ia menyebut pekerjaan domestik bukan kewajiban istri dan mengaitkan pandangannya dengan pemahamannya terhadap ajaran agama.

Anggapan wanita tidak pernah salah, terutama setelah menjadi istri, sering terdengar sebagai gurauan pasangan. Namun, Maulana membawanya ke pembahasan yang lebih serius: siapa yang bertanggung jawab atas kebutuhan keluarga dan pekerjaan di rumah.

Ustaz Maulana jelaskan tanggung jawab suami

Menurut Maulana, laki-laki memikul tanggung jawab atas nafkah dan kebutuhan keluarga. Ia lalu menyebut memasak, mencuci, serta membereskan rumah sebagai pekerjaan yang tidak wajib dilakukan istri.

“Wanita tidak pernah salah, apalagi istri gak pernah salah. Semua kesalahan tertuju pada laki-laki. Karena laki-laki bertanggung jawab atas tiga. Satu nafkah, semua kebutuhan ditanggung laki-laki. Jadi memasak bukan tugas perempuan, tugas laki-laki. Mencuci bukan tugas perempuan, tugas laki-laki. Beres-beres bukan tugas wanita, itu tugas laki-laki,” jelasnya, dikutip Jumat (9/10/2026).

Pernyataan itu disampaikan dalam obrolan mengenai tanggung jawab suami, kewajiban istri, dan pembagian peran dalam kehidupan rumah tangga. Maulana menekankan bahwa pekerjaan rumah tidak semestinya otomatis dibebankan kepada perempuan hanya karena ia berstatus sebagai istri.

Ia juga menyebut pekerjaan domestik yang dilakukan istri secara sukarela sebagai sunah dan sedekah. Dengan kata lain, menurut penjelasan Maulana, memasak atau merapikan rumah bukan kewajiban yang boleh dipaksakan kepada istri.

Memasak bukan kewajiban istri, kata Maulana

Untuk memperjelas pandangannya, Maulana mengambil contoh kegiatan memasak. Ia mengatakan seorang perempuan tidak boleh dipaksa menyiapkan makanan, sebab hal itu bukan kewajiban utama seorang istri menurut penjelasan yang ia sampaikan di podcast.

“Jadi, pada dasarnya semua tugas laki-laki sebenernya. Wanita bukan kewajiban, dia cuma sunah, sedekah,” ungkap sang pendakwah.

Ia kemudian kembali menegaskan bahwa memasak termasuk pekerjaan yang tidak wajib dilakukan perempuan. Ucapan tersebut menjadi bagian dari pembahasan tentang pembagian tanggung jawab, bukan sekadar candaan bahwa istri selalu benar.

“Jadi memasak itu bukan tugas wanita. Masak kau, gaboleh dipaksa. Jadi wanita tidak wajib tapi sunah, sedekah,” jelasnya.

Bagi pasangan, pernyataan itu membawa pembahasan agama ke persoalan yang dekat dengan rutinitas sehari-hari: siapa yang menyiapkan makanan, mencuci pakaian, dan menjaga rumah tetap rapi. Penjelasan Maulana menempatkan pekerjaan tersebut sebagai tanggung jawab yang perlu dibicarakan dalam keluarga, bukan otomatis dilekatkan kepada istri.

Namun, Maulana juga menyoroti nilai kebaikan ketika istri memilih melakukan pekerjaan rumah dengan sukarela. Ia menyebut tindakan menyiapkan makanan atau minuman bagi suami dapat bernilai ibadah, sembari membedakan kebaikan sukarela dari kewajiban yang harus dituntut.

Ustaz Maulana bicara pahala pekerjaan rumah

Maulana menyampaikan perbandingan pahala untuk menggambarkan nilai dari pelayanan yang dilakukan istri atas kemauannya sendiri. Pernyataan itu ia sampaikan setelah menjelaskan bahwa pekerjaan domestik tidak semestinya dipaksakan.

“Jadi wanita yang menyiapkan makanan buat suaminya lebih mulia daripada dia pergi saat umrah. Wanita yang menyiapkan minuman buat suaminya, itu pahalanya bagaikan puasa satu tahun,” beber Ustaz Maulana.

Perbedaan antara kewajiban dan perbuatan sukarela menjadi inti penjelasannya. Ia tidak menggambarkan pekerjaan rumah sebagai tugas yang harus selalu dilakukan istri, tetapi sebagai kebaikan yang bernilai ketika dilakukan dengan kerelaan.

Bagi kehidupan rumah tangga, pandangan itu dapat menggeser cara pasangan membahas pekerjaan domestik. Alih-alih menganggap memasak atau mencuci sebagai peran yang melekat pada istri, pasangan dapat melihatnya sebagai tanggung jawab keluarga yang perlu dibagi dan disepakati, sementara tindakan membantu secara sukarela tetap dihargai.

Penjelasan tersebut merupakan pandangan Ustaz Maulana yang disampaikan dalam podcast PWK. Dalam kutipan yang tersedia, ia menekankan tanggung jawab laki-laki atas nafkah dan kebutuhan keluarga, serta menyebut pekerjaan rumah sebagai hal yang tidak wajib bagi istri.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 9 Oktober 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir