Jumat, 9 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Mentan Amran Jajaki Ekspor Beras RI ke Filipina hingga Papua Nugini

Ekspor beras RI dibahas untuk pasar Filipina dan Papua Nugini
Pemerintah menjajaki pasar beras di Filipina, Papua Nugini, dan Timor Leste. (Ilustrasi: AI)

Ekspor beras Indonesia ke pasar baru masih dibahas, sementara jumlah yang akan dikirim belum ditentukan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah menjajaki peluang ekspor beras ke Filipina, Papua Nugini, dan Timor Leste.

Amran menyampaikan penjajakan itu setelah inspeksi mendadak di kantor Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Hortikultura di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (8/10). Ia belum menyebut volume beras yang mungkin dikirim ke tiga negara tersebut.

“Ada 2 sampai 3 negara. Itu penjajakan dengan Filipina, Papua Nugini, dengan Timor Leste, negara tetangga kita,” kata Amran. Saat ditanya mengenai jumlahnya, ia menjawab, “Belum, belum ada.”

Ekspor beras RI masih tahap penjajakan

Pernyataan Amran menempatkan rencana ke Filipina, Papua Nugini, dan Timor Leste pada tahap awal. Belum ada angka volume, jadwal pengiriman, atau kesepakatan ekspor yang diumumkan untuk ketiga negara itu. Karena itu, peluang pasar tersebut belum dapat disamakan dengan rencana pengiriman ke Malaysia yang sudah memiliki nota kesepahaman.

Pemerintah sebelumnya menyepakati ekspor beras premium ke Malaysia, dengan potensi pengiriman hingga 200.000 ton. Pengiriman perdana direncanakan sebanyak 1.000 ton dan dilakukan bertahap. Beras yang disiapkan memiliki tingkat pecahan 5 persen.

Dalam konferensi pers penandatanganan nota kesepahaman di Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (14/8), Amran menyebut nilai potensi ekspor 200.000 ton itu mencapai Rp3,39 triliun, atau Rp17.000 per kilogram. Kesepakatan tersebut ditandatangani Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dan General Manager Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd Jumaat bin Ibrahim.

Peluang pasar beras di negara tetangga

Perbedaan tahap ini penting bagi pembaca dan pelaku usaha pangan. Untuk Malaysia, sudah ada nota kesepahaman dan rencana pengiriman awal; untuk tiga negara yang kini dijajaki, pemerintah belum menetapkan volume. Artinya, peluang ekspor baru belum menjadi kepastian pasokan maupun jadwal yang bisa dijadikan pegangan oleh calon pembeli dan pemasok.

Amran menyebut kebutuhan beras Sarawak sekitar 200 ribu ton per tahun. Adapun kebutuhan Malaysia secara keseluruhan berkisar 1,5 juta hingga 1,7 juta ton per tahun. Angka itu menjadi gambaran besarnya pasar yang hendak dijangkau lewat kesepakatan dengan Malaysia, tetapi sumber tidak menyebut berapa bagian kebutuhan tersebut yang akan dipenuhi Indonesia.

Di Papua Nugini, peluang perdagangan juga mendapat perhatian pelaku usaha setempat. ANTARA melaporkan Ketua Kamar Dagang dan Industri Papua Jacleana Joku mendorong pengusaha Papua memanfaatkan kesempatan ekspor ke negara itu. Ia menyebut pengiriman melalui Pos Lintas Batas Negara Skouw berpotensi menekan biaya sehingga harga produk dapat bersaing.

Jacleana juga mengatakan nilai ekspor ke Papua Nugini melalui PLBN Skouw tercatat mencapai Rp60 miliar. Namun, angka itu mencakup ekspor melalui jalur tersebut dan bukan nilai ekspor beras. Informasi ini memberi konteks tentang aktivitas perdagangan lintas batas, bukan bukti bahwa pengiriman beras ke Papua Nugini sudah disepakati.

ANTARA turut melaporkan Border Trade Fair berlangsung pada 8-10 Oktober 2026 di zona netral perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Forum itu mencakup pertemuan pengusaha dari Papua dan Provinsi West Sepik untuk membahas peluang perdagangan. Sumber tersebut tidak menyebut beras sebagai komoditas yang telah disepakati dalam pertemuan.

Pengiriman Malaysia jadi acuan awal

Rencana Malaysia memberi gambaran bagaimana peluang ekspor beras dapat bergerak dari pembicaraan menuju pengiriman: ada nota kesepahaman, jenis beras, volume awal, dan potensi jumlah yang lebih besar. Detail serupa belum tersedia untuk Filipina, Papua Nugini, maupun Timor Leste.

Tahap penjajakan itu masih harus menghasilkan kesepakatan konkret sebelum pelaku usaha dapat mengetahui kebutuhan barang dan waktu pengiriman.

Amran menyatakan Indonesia berharap pengiriman awal ke Malaysia dapat dilakukan secepatnya dan menyebut berasnya tersedia. Ia juga mengatakan pengiriman 1.000 ton diharapkan bisa dikapalkan pada minggu itu. Pada saat yang sama, ia mengingatkan adanya potensi dampak El Nino tahun ini terhadap rencana memasok pasar luar negeri.

Bagi konsumen dan industri pangan, perkembangan ekspor beras berkaitan langsung dengan keseimbangan antara penjualan ke luar negeri dan ketersediaan pasokan dalam negeri. Namun, bahan yang tersedia belum merinci mekanisme pengaturan pasokan untuk tiga negara yang sedang dijajaki. Yang sudah dinyatakan pemerintah adalah belum adanya volume ekspor untuk pasar-pasar tersebut.

Untuk saat ini, angka paling konkret dalam rencana ekspor beras Indonesia tetap berasal dari kesepakatan Malaysia: pengiriman perdana 1.000 ton, dengan potensi total hingga 200.000 ton senilai Rp3,39 triliun.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair