JAKARTA — SynthID Detector kini tersedia secara global dalam bahasa Inggris, sehingga siapa pun dapat memeriksa apakah gambar, video, atau audio dibuat dengan AI dari Google maupun mitranya. Google DeepMind mengumumkan perluasan akses ini untuk membantu orang mendapat konteks sebelum memutuskan apakah konten online layak dipercaya.
Pengguna dapat mengunggah berkas ke alat tersebut untuk mencari tanda SynthID. Teknologi ini menyisipkan watermark yang tidak terlihat pada media buatan AI. Pemeriksaan mencakup konten dari Google serta sejumlah mitra, termasuk OpenAI, NVIDIA, Kakao, dan Apple yang disebut akan segera didukung.
SynthID Detector memperluas pemeriksaan media AI
Google memperkenalkan versi awal SynthID Detector tahun lalu untuk membantu profesional media memverifikasi konten yang dihasilkan AI. Kini, perusahaan memperluas aksesnya kepada publik. Namun, pengumuman tersebut menyebut ketersediaan global dalam bahasa Inggris; tidak ada keterangan bahwa antarmuka berbahasa Indonesia sudah tersedia.
Perluasan ini mengubah alat verifikasi yang semula ditujukan bagi pekerja media menjadi layanan yang dapat digunakan siapa saja. Pembaca, editor, atau pengguna media sosial dapat memeriksa berkas yang mereka temukan atau terima, selama konten itu dibuat dengan AI Google atau mitra yang didukung.
Google menyatakan SynthID telah digunakan untuk memberi watermark pada lebih dari 180 miliar gambar dan video serta konten audio sebanyak 240.000 tahun. Angka itu menggambarkan skala penerapan teknologinya, bukan jumlah berkas yang sudah diperiksa oleh pengguna melalui Detector.
Watermark tidak terlihat, tetapi cakupannya terbatas
SynthID bekerja dengan menyisipkan penanda digital yang tidak tampak secara kasatmata pada gambar, video, dan audio. Detector kemudian membantu menemukan penanda tersebut. Bagi pengguna, proses ini menawarkan petunjuk tambahan saat sebuah media sulit dibedakan dari rekaman atau karya yang dibuat tanpa AI.
Namun, cakupan pemeriksaan mengikuti dukungan teknologi. Google menyebut Detector dapat memeriksa media yang dibuat dengan AI dari Google atau mitranya, antara lain OpenAI, NVIDIA, dan Kakao. Dukungan untuk Apple disebut akan hadir kemudian. Pengumuman itu tidak menyatakan bahwa alat ini dapat mengenali setiap konten AI dari semua layanan.
Batas itu penting. Jika Detector tidak menemukan watermark, hasil tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa sebuah gambar, video, atau audio dibuat manusia. Pengguna tetap perlu mempertimbangkan asal berkas dan konteks penyebarannya; alat ini memberi informasi tambahan, bukan keputusan akhir tentang kebenaran isi.
Google menggabungkan Detector dengan fitur lain
SynthID Detector bukan satu-satunya jalur verifikasi yang disebut Google. Perusahaan juga memiliki fitur pemeriksaan bawaan di Search, aplikasi Gemini, dan Chrome. Menurut pengumuman Google DeepMind, fitur-fitur itu kini menangani lebih dari 1 juta permintaan setiap hari.
Permintaan harian tersebut merujuk pada fitur verifikasi di Search, Gemini, dan Chrome secara bersama-sama, bukan angka penggunaan SynthID Detector. Google menempatkan layanan-layanan itu sebagai bagian dari upaya memberi pengguna konteks lebih banyak tentang media yang mereka lihat di internet.
Dampaknya terasa pada cara orang menilai konten yang beredar. Sebuah klip yang tampak meyakinkan atau gambar yang ramai dibagikan belum tentu memberi tahu siapa pembuatnya. Akses pemeriksaan yang lebih luas dapat membantu pengguna dan redaksi mencari petunjuk asal media sebelum mengutip atau meneruskannya, terutama ketika isi konten berpotensi memengaruhi pemahaman publik.
Untuk pengguna di Indonesia, pengumuman ini belum menjanjikan layanan berbahasa Indonesia. Detector disebut tersedia secara global dalam bahasa Inggris, sehingga kemampuan mengaksesnya tidak serta-merta berarti seluruh pengalaman sudah dilokalkan. Google menyatakan fitur ini melengkapi pemeriksaan di Search, Gemini, dan Chrome, yang bersama-sama menangani lebih dari 1 juta permintaan setiap hari.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.