Amran memperkirakan investasi awal sekitar Rp200 miliar untuk satu pabrik. Angkanya dapat naik menjadi Rp250 miliar jika fasilitas turut mencakup pengolahan daging. Dengan tiga pabrik, total investasi diperkirakan berada pada kisaran Rp600 miliar hingga Rp750 miliar, bergantung pada fasilitas yang dibangun di masing-masing lokasi.
Perbedaan nilai itu berkaitan dengan lingkup pengolahan, bukan perubahan jumlah pabrik. Angka Rp750 miliar menggambarkan skenario investasi tertinggi yang disebut dalam bahan pemerintah, sedangkan nilai lebih rendah berlaku apabila kebutuhan fasilitas per lokasi tidak mencapai perkiraan maksimum.
Bagi peternak, keberadaan pengolah dapat menambah pilihan penyerapan hasil. Ketika produksi tidak hanya bergantung pada penjualan produk segar, pabrik berpotensi membantu menghubungkan produksi dengan kebutuhan industri pengolahan.
Dampaknya bergantung pada rancangan fasilitas dan kemampuan proyek menyerap hasil; karena itu, studi kelayakan menjadi tahap penting sebelum nilai investasi dan spesifikasi pembangunan ditetapkan.
Pemerintah membuka ruang bagi swasta
Amran meminta jajaran terkait mengawal persiapan agar rencana dapat berlanjut ke tahap berikutnya. Pemerintah juga membuka kesempatan bagi pihak swasta untuk ikut mengembangkan fasilitas pengolahan peternakan.
“Kalau ada swasta mau bergandengan, silakan. Tapi negara ada di sampingnya,” katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan rencana kolaborasi dengan peran pemerintah tetap menyertai pengembangan industri. Keterlibatan swasta menjadi salah satu opsi untuk mendukung investasi dan pembangunan fasilitas, sementara pemerintah mendorong ekosistem peternakan terintegrasi agar penguatan produksi berjalan seiring dengan penyerapan hasil.
Dalam laporan ANTARA, Amran turut menyatakan bahwa jika pabrik telah berdiri, impor tepung telur akan dihentikan. Target waktu yang disampaikan untuk penyelesaian proyek adalah maksimal dua tahun.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.