Danantara saat ini telah mengalokasikan sekitar US$ 3 miliar atau sekitar Rp 53,67 triliun untuk investasi saham dan obligasi, baik di dalam maupun luar negeri. Dari keseluruhan portofolio yang dikelola, 65% ditempatkan pada saham, 30% pada instrumen pendapatan tetap, dan 5% pada dana lindung nilai. Sekitar seperempat portofolio berada di Indonesia.
Lembaga ini mengelola mandat aset negara sekitar US$ 900 miliar yang tersebar di lebih dari 1.000 perusahaan. Danantara juga berwenang memanfaatkan dividen untuk mengoptimalkan hasil investasi. Skala mandat itu membuat pilihan alokasi dan standar kehati-hatian lembaga berpengaruh pada cara dana negara ditempatkan, meski bahan sumber tidak menyebut perusahaan atau saham tertentu yang akan dibeli.
Rani menilai eksposur portofolio terhadap kecerdasan buatan sudah dilakukan dengan hati-hati. Danantara tidak menganggap AI sebagai gelembung yang akan segera pecah, tetapi ingin memasuki sektor itu secara cermat karena merasa terlambat. Ia juga menilai kekhawatiran investor terhadap gelembung dapat membantu menjaga pasar tetap terkendali.
“Kami tidak berpikir (AI) adalah gelembung dan kami tidak berpikir itu akan meledak, tetapi kami hanya ingin berhati-hati memasuki bidang ini karena kami agak terlambat,” tutur Rani.
Sikap tersebut memberi gambaran bahwa rencana investasi tidak hanya menyasar peluang saat harga saham melemah. Danantara juga menimbang risiko pada sektor yang mendapat perhatian besar, termasuk AI. Bagi pasar domestik, keputusan lembaga ini dapat menjadi sentimen, tetapi besaran dana yang disiapkan tidak dengan sendirinya menjamin perubahan arah IHSG.
Target imbal hasil dan pembahasan dividen
Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara Pahala Mansury mengatakan dana investasi ditargetkan menghasilkan imbal hasil 200-300 basis poin di atas biaya modal. Sebagai acuan, biaya modal itu tercermin dalam obligasi dolar AS Danantara bertenor lima tahun yang diterbitkan pada Juni lalu dengan imbal hasil 5,35%.
Angka tersebut menunjukkan bahwa keputusan investasi juga dinilai dari target hasil terhadap biaya pendanaan. Dengan demikian, kemungkinan pembelian ketika pasar tertekan tetap harus sejalan dengan perhitungan imbal hasil, bukan hanya pertimbangan sentimen atau pergerakan indeks.
Soal dividen, dana Rp 120 triliun yang sebelumnya disebut akan disetorkan kepada pemerintah tahun ini berpotensi ditahan. Pahala mengatakan Danantara masih berdiskusi dengan Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengenai pengelolaan dana tersebut dan belum menyampaikan keputusan akhir.
“Kami sedang berdiskusi dengan Menteri Keuangan (yang baru) Suahasil. Sejauh ini indikasi yang kami dapatkan adalah kami masih dapat mengelola dividen, tetapi tentu saja kami masih akan menunggu keputusan akhir,” kata Pahala.
Di tingkat daerah, pasar modal juga terus tumbuh melalui aktivitas investor. Antara melaporkan BEI Bengkulu menargetkan nilai transaksi pasar modal di provinsi itu mencapai Rp7 triliun hingga akhir 2026, dengan rata-rata transaksi bulanan di kisaran Rp600 miliar.
Data yang dikutip Antara mencatat investor pasar modal nasional mencapai 31,1 juta hingga Agustus 2026, sementara di Bengkulu terdapat 10,8 ribu investor.
Angka Bengkulu itu memberi konteks bahwa pembicaraan tentang ketahanan pasar tidak hanya menyangkut indeks nasional atau keputusan pengelola dana besar. Perluasan partisipasi investor daerah juga bergantung pada pemahaman risiko, sebagaimana disampaikan OJK Bengkulu dalam laporan Antara. Sementara itu, Danantara masih menunggu keputusan akhir terkait dividen Rp 120 triliun.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.