Logam tanah jarang menjadi fokus karena Malaysia ingin membangun posisi yang kompetitif secara global dalam industri tersebut. Minat terhadap sektor ini datang dari perusahaan tambang dan pengolah asing, sementara proyek-proyek baru dapat memperluas kegiatan perusahaan lokal.
Minat investor dan proyek asing di Malaysia
Malaysia menjadi lokasi operasi Lynas Rare Earths Ltd dari Australia. Bloomberg menyebut perusahaan itu sebagai salah satu dari hanya dua produsen utama di luar China.
Di dalam negeri, konglomerat Berjaya Corp Bhd. juga menjajaki proyek terkait logam tanah jarang. Sementara itu, Carester SAS dari Prancis berencana membangun pabrik pemisahan di bagian utara Perak melalui usaha patungan dengan Malaco Mining Group dari Malaysia.
Rangkaian proyek tersebut memberi gambaran bahwa pengembangan industri tidak berhenti pada kegiatan menggali mineral. Pengolahan dan pemisahan menjadi bagian dari upaya membangun rantai usaha logam tanah jarang di Malaysia. Bagi Southern Alliance, proyek di Perak dan rencana di Johor menandai langkah perusahaan untuk memperluas fokus bisnisnya dari bijih besi.
Sultan Ibrahim memiliki kepentingan bisnis di berbagai sektor, termasuk real estat, telekomunikasi, dan infrastruktur, terutama melalui kepemilikan saham di sejumlah perusahaan. Ia juga pernah menjabat selama lima tahun sebagai raja Malaysia, dalam sistem monarki bergilir yang melibatkan sembilan penguasa turun-temurun.
Bloomberg melaporkan perwakilan istana nasional Malaysia belum segera menanggapi permintaan komentar pada Selasa. Southern Alliance menyatakan pengalihan saham tidak mengubah arah perusahaan, sementara Pek tetap memegang 55,74 persen kepemilikan langsung.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.