Jumat, 16 Oktober 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Riset dan Investasi Jadi Kunci Perluasan Layanan Kesehatan

Riset kesehatan dan teknologi layanan di laboratorium rumah sakit Indonesia
Kolaborasi riset dan investasi dinilai penting untuk mengembangkan layanan kesehatan yang dapat dijangkau masyarakat. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Memperluas layanan kesehatan ke lebih banyak masyarakat membutuhkan dukungan riset dan investasi, bukan sekadar penambahan fasilitas. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyampaikan hal itu dalam Health Tech Festival yang digelar Universitas Bina Nusantara pada Kamis (27/8).

Menurut Stella, teknologi kesehatan perlu menghasilkan layanan yang mudah diakses, terjangkau, dan akurat. Ia menilai, agar manfaatnya menjangkau masyarakat dalam skala besar, pengetahuan dari riset harus bertemu dengan investasi dan infrastruktur yang bisa digunakan.

“Kalau kita ingin kesehatan berdampak dalam skala besar, kuncinya adalah mudah, murah, dan akurat,” ujar Stella.

Riset kesehatan perlu berujung pada layanan

Stella menjelaskan bahwa pembangunan layanan kesehatan tidak selesai dengan menyediakan rumah sakit atau fasilitas lain. Prosesnya dimulai dari riset yang menghasilkan pengetahuan, lalu dilanjutkan dengan dukungan investasi untuk mengembangkan inovasi dan infrastruktur yang mengantarkan hasilnya kepada masyarakat.

Rangkaian itu penting karena temuan di lingkungan akademik tidak otomatis berubah menjadi teknologi yang dapat dipakai. Inovasi perlu dikembangkan dan didukung sarana yang memadai. Tanpa penghubung tersebut, manfaat riset berisiko tertahan di laboratorium dan belum menjawab kebutuhan layanan.

Sebagai contoh, Stella menyebut Beijing Genomics Institute (BGI), yang menurutnya tumbuh dari kekuatan pengetahuan dan riset hingga memiliki kemampuan teknologi serta investasi yang besar. Ia juga mencontohkan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) sebagai infrastruktur yang dapat mendukung pengembangan riset sekaligus pelayanan kesehatan di Indonesia.

Rumah sakit pendidikan itu menjalin kerja sama riset dengan Singapura dan sejumlah institusi di Inggris. Contoh tersebut menggambarkan hubungan antara fasilitas pelayanan, kegiatan penelitian, dan kolaborasi lintas institusi dalam mengembangkan pengetahuan kesehatan.

Portal riset menghubungkan kampus dan pengguna

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) juga telah membangun portal riset nasional. Portal itu memuat data peneliti dan hasil riset kesehatan, serta ditujukan untuk mempertemukan pakar dari perguruan tinggi dengan pemerintah daerah dan industri yang membutuhkan keahlian mereka.

Peran portal itu bukan sekadar menyimpan informasi. Ketika kebutuhan pemerintah daerah atau industri dapat bertemu dengan peneliti yang relevan, peluang untuk membawa pengetahuan menuju penerapan layanan menjadi lebih terbuka. Namun, bahan yang disampaikan kementerian tidak merinci jumlah peneliti, riset, ataupun proyek yang telah terhubung melalui portal.

Dampak praktis dari pendekatan ini terletak pada kemungkinan menghadirkan inovasi kesehatan yang lebih dekat dengan kebutuhan layanan. Masyarakat baru merasakan hasil riset ketika teknologi yang dikembangkan dapat diterapkan, dijangkau, dan didukung infrastruktur. Karena itu, keterhubungan kampus, pemerintah, industri, dan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam perluasan layanan.

Integrasi data dan dukungan pendanaan

Health Tech Festival BINUS juga dihadiri Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, Rektor BINUS University Nelly, serta Guru Besar KU Leuven Belgia Bart Van Roepse. Kegiatan yang digagas BINUS melalui skema project initiative itu mendorong kolaborasi riset kesehatan berbasis pengetahuan.

Dante menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan sedang memperkuat integrasi data melalui platform Satu Sehat, yang berfungsi sebagai rekam kesehatan pribadi masyarakat. Integrasi data menjadi bagian dari upaya membangun layanan yang lebih terhubung, sementara sumber tidak merinci perubahan layanan atau hasil yang telah dicapai dari penguatan platform tersebut.

Nelly menyatakan BINUS mendukung pengembangan teknologi kesehatan dengan pendanaan inisiatif khusus di luar anggaran rutin. Dukungan itu, menurutnya, ditujukan agar inovasi berbasis pengetahuan di lingkungan akademik mendapat dorongan nyata.

Riset, investasi, dan infrastruktur pada akhirnya perlu bergerak bersama agar gagasan akademik dapat berkembang menjadi layanan yang dipakai masyarakat. Stella menekankan ukuran yang ingin dicapai: “mudah, murah, dan akurat.”

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 16 Oktober 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir