KUALA LUMPUR — Saat harga minyak dunia masih tinggi, harga BBM nonsubsidi di Malaysia justru turun untuk periode 15 hingga 21 Oktober 2026. Pemerintah memangkas harga bensin RON95 dan RON97 masing-masing 5 sen, serta solar 10 sen, setelah pasokan produk minyak olahan di pasar regional membaik.
Penurunan ini hanya berlaku di Malaysia, bukan perubahan harga BBM di Indonesia. Bagi konsumen di negara itu, harga eceran turun setelah sepekan sebelumnya dua jenis bensin nonsubsidi justru naik 15 sen per liter.
Harga RON95, RON97, dan solar turun
Kementerian Keuangan Malaysia mengumumkan penyesuaian harga pada Rabu, 14 Oktober. Menurut laporan AsiaOne yang dikutip VIVA, harga RON95 dan RON97 nonsubsidi masing-masing turun 5 sen atau setara Rp 220 per liter. Harga solar nonsubsidi dipangkas 10 sen atau setara Rp 440 per liter.
Setelah penurunan, RON97 dijual RM5,10 atau Rp 22.423 per liter. RON95 nonsubsidi menjadi RM4,62 atau Rp20.312 per liter, sedangkan solar nonsubsidi berada di RM5,17 atau Rp 22.730 per liter.
Perubahannya terasa langsung di pompa bensin. Namun, penyesuaian mingguan itu tidak menghapus tekanan dari pasar minyak global yang masih bergejolak.
Kementerian Keuangan Malaysia menyebut pasokan produk minyak olahan di kawasan membaik setelah China kembali mengizinkan ekspor bahan bakar untuk Oktober. Korea Selatan juga terus memasok produk minyak ke pasar regional.
“Perkembangan ini membantu meredakan tekanan terhadap pasokan,” kata Kementerian Keuangan Malaysia.
Harga BBM Malaysia mengikuti formula mingguan
Malaysia menetapkan harga BBM dengan Automatic Pricing Mechanism (APM), formula yang diperkenalkan pada 1983. Mekanisme itu menyesuaikan harga bahan bakar setiap pekan dengan fluktuasi pasar, sekaligus ditujukan untuk menjaga kestabilan harga.
Karena itu, pemangkasan pekan ini bukan berarti risiko kenaikan telah hilang. Kementerian Keuangan Malaysia memperingatkan konflik yang memanas di Timur Tengah, termasuk serangan terbaru terhadap Arab Saudi, dapat mengganggu pasokan ketika harga minyak masih tinggi.
“Volatilitas harga diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka menengah,” ujar kementerian tersebut.
Ancaman gangguan pasokan juga menjadi perhatian pasar minyak. Pada Rabu, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent naik menjadi 105,83 dolar AS atau Rp1,9 juta per barel pada pukul 16.38 WIB, setelah serangan terhadap perusahaan minyak milik negara Arab Saudi, Aramco.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz serta aksi militer antara Arab Saudi dan kelompok Houthi ikut menopang harga. Pelaku pasar khawatir ekspor minyak dari kawasan itu akan berkurang, meski Staunovo menyebut ekspor sejauh ini masih berjalan relatif stabil.
Bagi konsumen, perbedaan antara harga BBM nonsubsidi Malaysia dan harga minyak dunia menunjukkan bahwa penurunan harga di tingkat ritel dapat terjadi saat pasokan regional membaik, meskipun risiko geopolitik belum mereda. Dampaknya di Indonesia tidak otomatis sama: pengumuman yang diberitakan ini khusus untuk harga eceran di Malaysia.
Penyesuaian harga yang diumumkan berlaku selama sepekan, dari 15 hingga 21 Oktober 2026.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.