JAKARTA — IDAI berikan tips mencegah dampak buruk asap karhutla pada anak, mulai dari memantau mutu udara hingga menjaga anak tetap di dalam rumah saat kabut asap terjadi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa anak dengan penyakit jantung bawaan atau gangguan paru-paru menghadapi risiko lebih tinggi.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, Dr. Fifi Sofiah, Sp.A, Subsp. Respi. (K), menyampaikan imbauan itu dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat. Ia menekankan perlunya perhatian khusus bagi anak yang sedang dirawat di rumah sakit atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), memperburuk asma, serta berkaitan dengan bronkiektasis dan penyakit paru-paru kronik. Paparan juga dapat memicu stres oksidatif dan peradangan pada saluran napas.
IDAI berikan tips pantau udara dan siapkan ruang bersih
Langkah pertama yang disarankan Fifi ialah memeriksa laporan kualitas udara setempat secara rutin. Orang tua dapat melihat Air Quality Index (AQI) atau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sebagai bahan pertimbangan sebelum anak beraktivitas di luar.
Di rumah, keluarga dapat menyiapkan satu ruang bersih dengan jendela dan pintu yang terbatas. Fifi menyarankan penggunaan alat pembersih udara portabel yang tidak menghasilkan ozon.
Pengaturan pendingin ruangan juga perlu diperhatikan. Fifi mengatakan AC sebaiknya tidak menarik udara dari luar ke dalam rumah; mode sirkulasi ulang udara atau ventilasi tertutup dapat digunakan.
Selama kabut asap berlangsung, tutup pintu dan jendela agar asap dari luar tidak mudah masuk. Upaya ini perlu dibarengi dengan mengurangi sumber polusi di dalam rumah.
Fifi mengingatkan keluarga agar tidak merokok di dalam ruangan. Kompor gas, kayu bakar, perapian, lilin, dan semprotan aerosol juga dapat menambah polutan, sehingga sebaiknya dihindari saat kualitas udara memburuk.
Aktivitas luar dan penggunaan masker
Aktivitas fisik berat di luar ruangan perlu dibatasi ketika udara tampak berasap, berbau, atau laporan AQI dan ISPU menunjukkan kualitas yang buruk. Anak yang beraktivitas di luar saat kondisi tersebut dapat menghirup lebih banyak partikel asap.
Jika anak harus keluar, Fifi menyarankan penggunaan masker bagi anak berusia dua tahun atau lebih. Kacamata juga dapat membantu mengurangi iritasi pada mata. Anjuran ini perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi anak, terutama untuk bayi dan balita yang lebih kecil.
Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso, dalam laporan pembanding ANTARA, mengingatkan bahwa masker tidak dianjurkan bagi bayi dan balita di bawah dua tahun. Ia juga menilai pencegahan perlu didahulukan, karena gangguan kesehatan akibat karhutla tidak cukup ditangani setelah anak telanjur terdampak.
Piprim turut mendorong pembatasan aktivitas luar ruang dan menyebut sekolah serta fasilitas pendidikan dapat mempertimbangkan pembelajaran jarak jauh saat kondisi udara mengharuskannya. Ia meminta perlindungan anak tidak hanya dilihat dari penanganan api, melainkan juga dari upaya menjaga kesehatan masyarakat.
Dampaknya terasa langsung pada rutinitas keluarga: bermain di luar, perjalanan ke sekolah, dan kegiatan harian lain perlu mengikuti kondisi udara setempat. Memantau AQI atau ISPU membantu orang tua mengambil keputusan berdasarkan laporan kualitas udara, bukan hanya dari kabut yang terlihat.
Anak dengan asma perlu menyiapkan obat rutin
Anak dengan asma, alergi, atau penyakit kronis lain berisiko lebih tinggi mengalami gangguan saat terpapar asap. Fifi meminta orang tua memastikan obat yang biasa digunakan tersedia, termasuk obat pereda cepat atau inhaler penyelamat.
Informasi dari kedua laporan ANTARA sejalan dalam menempatkan pencegahan sebagai langkah utama, meski masing-masing menyoroti sisi berbeda. Fifi memaparkan tindakan praktis di rumah dan saat anak perlu keluar, sedangkan Piprim menekankan perlindungan yang lebih luas, termasuk peran pemerintah dan fasilitas pendidikan.
Orang tua dapat terus memeriksa pembaruan kualitas udara dan menyesuaikan kegiatan anak selama kabut asap berlangsung. Bila anak memiliki kondisi kesehatan tertentu, persiapan obat rutin menjadi bagian penting dari langkah perlindungan di rumah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.