Sabtu, 17 Oktober 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Tiga Kali Reshuffle pada Oktober, Apa yang Ingin Dikejar Prabowo?

Tiga Kali Reshuffle pada Oktober, Apa yang Ingin Dikejar Prabowo?
Dokumen pelantikan menggambarkan rangkaian perubahan jabatan pemerintah pada Oktober 2026

JAKARTA — Reshuffle Prabowo berlangsung tiga kali dalam dua pekan pertama Oktober 2026, dengan perubahan jabatan pada kabinet dan pelantikan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Presiden belum menjelaskan alasan rangkaian perombakan itu, sementara pengamat menilai pergantian pejabat belum tentu langsung menyelesaikan persoalan pemerintah.

Perombakan pertama berlangsung pada 1 Oktober, ketika 16 posisi mengalami perubahan. Keesokan harinya, Prabowo melantik 26 anggota Wantimpres. Gelombang ketiga berlangsung pada Kamis (15/10/2026), dengan sembilan orang dilantik dalam reshuffle kabinet.

Yang berubah bukan hanya susunan menteri. Sejumlah posisi strategis di bidang pemerintahan, pertahanan, dan lembaga negara turut bergeser. Namun, hingga kini pemerintah belum memaparkan satu alasan resmi yang menjelaskan tiga rangkaian pelantikan tersebut.

Reshuffle Prabowo mengubah sejumlah posisi strategis

Pada 1 Oktober, Prabowo memimpin pengucapan sumpah pejabat yang dilantik di Istana, Jakarta. Jenderal Listyo Sigit Prabowo ditunjuk menjadi Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), menggantikan Dudung Abdurachman. Dudung kemudian dipercaya mengisi jabatan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, menggantikan Djamari Chaniago.

Bahlil Lahadalia mendapat tugas tambahan sebagai Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi, selain menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji dilantik sebagai Menteri Perindustrian menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita.

Perubahan juga menyentuh urusan luar negeri dan pembangunan manusia. Sugiono berpindah dari jabatan Menteri Luar Negeri ke Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, menggantikan Pratikno. Posisi Menteri Luar Negeri kemudian diisi Arrmanatha Nasir.

Di tingkat wakil menteri dan badan, Drajad Wibowo dilantik sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Komjen Dedi Prasetyo, yang sebelumnya menjabat Wakapolri, ditunjuk sebagai Kepala Badan Reforma Agraria Nasional.

Sehari setelah reshuffle itu, Prabowo melantik ketua, wakil ketua, sekretaris, dan anggota Wantimpres. Jumlah anggota yang dilantik mencapai 26 orang. Bahan sumber tidak memuat daftar nama lengkap mereka.

Perombakan cepat belum tentu mengubah kinerja

Gelombang terbaru berlangsung pada 15 Oktober di Istana Negara, Jakarta. Prabowo melantik Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan empat wakil menteri. Setelah itu, ia melantik dua jenderal yang bertukar jabatan: Jenderal Maruli Simanjuntak menjadi Wakil Panglima TNI, sedangkan Jenderal Tandyo Budi Revita menjadi Kepala Staf Angkatan Darat.

Pakar komunikasi politik Universitas Brawijaya Verdy Firmantoro mengingatkan bahwa perubahan pejabat tidak otomatis menjawab persoalan pemerintah. Menurut dia, masalah dapat berakar pada regulasi yang tumpang tindih, birokrasi yang gemuk, atau arah visi makro yang belum dievaluasi.

“Secara substantif, belum tentu. Dalam perspektif komunikasi politik, reshuffle memang dianggap sebagai satu langkah mitigatif yang paling cepat diambil atas suatu persoalan yang belum optimal diselesaikan atau performa kinerja yang kurang menonjol,” ujar Verdy kepada Kompas.com, Jumat (16/10/2026).

Pengingat itu penting bagi pelaksanaan program. Ketika pimpinan kementerian berganti dalam waktu singkat, aparatur sipil negara di bawahnya harus menyesuaikan diri dengan gaya kepemimpinan dan pola kerja baru. Verdy menilai proses adaptasi tersebut berisiko mengganggu ritme birokrasi dan memperlambat eksekusi program di lapangan.

Sinyal kendali dan risiko adaptasi birokrasi

Verdy membaca reshuffle beruntun sebagai pesan bahwa Prabowo tidak ragu mengevaluasi kecocokan pejabat dengan perannya. Namun, bagi publik, perubahan cepat juga dapat memunculkan tafsir bahwa penempatan figur sejak awal belum matang dan terkesan mencoba-coba.

Ia juga menyoroti posisi yang berubah di sektor pertahanan, pertanian, imigrasi, hingga BNPB. Menurut Verdy, rangkaian pelantikan itu dapat menjadi sinyal bahwa Istana ingin tampak tanggap, memperkuat jabatan strategis, serta mendorong ketahanan pangan dan keamanan nasional.

Komposisi pejabat yang dilantik, kata Verdy, turut membawa pesan tentang arah pengelolaan pemerintahan. Ia melihat petinggi militer dan kalangan teknokrat mendapat tempat dalam sejumlah posisi strategis, termasuk di BPGMN, BNPB, dan Kementerian Pertahanan.

“Secara politik, Presiden Prabowo sedang menggeser struktur komandonya ke arah yang lebih terpusat, mencari yang lebih sefrekuensi dan berorientasi pada loyalitas untuk kepentingan eksekusi-eksekusi cepat dan teknokratik,” kata Verdy.

Bagi kementerian dan lembaga, ukuran keberhasilan perombakan bukan sekadar siapa yang dilantik, melainkan apakah pergantian itu memperjelas tanggung jawab dan mempercepat kerja. Jika pejabat baru membutuhkan waktu untuk membangun hubungan kerja, sementara aturan dan persoalan mendasar tetap sama, perubahan susunan belum tentu terasa dalam pelaksanaan kebijakan.

Verdy juga mengingatkan bahwa pemerintah menghadapi ujian berat, terutama praktik korupsi yang ia sebut sebagai persoalan serius. Sampai Kamis (15/10/2026), rangkaian Oktober itu telah mencakup 16 perubahan posisi, pelantikan 26 anggota Wantimpres, dan sembilan pelantikan pada gelombang ketiga.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda