Jalan kaki bisa dibuat lebih menantang tanpa harus berubah menjadi lari. Japanese walking memakai pergantian jalan cepat dan lambat, dan metode ini berpotensi membakar lebih banyak kalori serta lemak dibandingkan berjalan dengan kecepatan konstan.
Teknik yang juga dikenal sebagai Interval Walking Training (IWT) ini mengandalkan intensitas saat berjalan cepat. Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat UGM, Prof Dr dr Denny Agustianingsih, M.Kes, AIFM, latihan tersebut dapat mendukung kebugaran jantung, paru-paru, dan metabolisme tubuh.
Namun, kuncinya bukan sekadar mempercepat langkah. Dosis latihan perlu tepat agar tubuh mendapat beban sedang hingga tinggi pada interval cepat, lalu berkesempatan menurunkan intensitas saat berjalan biasa.
Japanese walking mengandalkan dua tempo
Japanese walking bukan jalan santai dengan kecepatan yang sama sepanjang latihan. Peserta bergantian berjalan cepat dan berjalan lebih lambat. Pergantian tempo itulah yang membedakannya dari jalan kaki biasa.
Denny menjelaskan bahwa fase cepat perlu memberi beban yang cukup pada sistem tubuh. “Tepat yang dimaksud adalah jalan dilakukan selang-seling antara jalan cepat dengan jalan biasa. Pada saat berjalan cepat, beban terhadap sistem tubuh harus mencapai beban sedang hingga tinggi,” ujarnya, dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada.
Artinya, jalan cepat mesti terasa menantang, tetapi tidak perlu sampai berlari. Fase berjalan biasa menjadi bagian dari pola latihan, bukan alasan untuk mempertahankan kecepatan tinggi terus-menerus.
Cara mengecek intensitas Japanese walking
Ada dua cara yang disebut Denny untuk menilai apakah intensitas latihan sudah sesuai. Cara pertama adalah talk test, yakni memperhatikan kemampuan berbicara ketika berjalan cepat.
Jika masih bisa bercerita panjang tanpa terputus atau bahkan bernyanyi, kecepatan berjalan perlu ditambah. Sebaliknya, targetnya bukan sampai berlari, melainkan mencapai kondisi ketika seseorang tidak mampu mengucapkan kalimat panjang dengan lancar.
Jam pintar juga dapat membantu memantau intensitas. Saat berjalan cepat, denyut nadi diharapkan mencapai level ketiga. Ketika kembali berjalan biasa, denyut nadi berada di level paling bawah. Bahan sumber tidak merinci angka denyut nadi untuk setiap level, sehingga pengguna perangkat perlu mengikuti pengaturan yang tersedia di jam masing-masing.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.