Program ini tidak menempatkan AI sebagai pengganti penilaian manusia. CTO Microsoft Azure Mark Russinovich mengatakan, “AI changes the work, but it doesn’t eliminate the need for junior engineers or for human judgment and accountability.” Pernyataan itu menekankan bahwa kemampuan teknis menggunakan AI tetap perlu berjalan bersama pertimbangan dan tanggung jawab manusia.
AI mengubah tugas, bukan menghapus peran insinyur muda
Perubahan itu penting karena pekerjaan awal seorang insinyur perangkat lunak selama ini dapat membantu membangun keahlian secara bertahap. Michael Hilton, profesor pengajar di Software and Societal Systems Department CMU, mengatakan penggunaan AI mengubah pola tersebut.
Menurutnya, kolaborasi akademisi dan praktisi dapat menghasilkan pendekatan yang bertumpu pada riset sekaligus sesuai dengan kenyataan kerja pengembangan perangkat lunak.
Bagi perusahaan, perpaduan kelas dan pendampingan memberi jalur bagi karyawan untuk mempelajari AI sambil tetap mengerjakan pekerjaan nyata. Bagi peserta, pembelajaran dapat langsung diuji dalam konteks tugas mereka, dengan insinyur senior membantu memberi arahan. Dampaknya bukan sekadar mengenalkan alat baru, melainkan membangun kemampuan untuk memilih kapan dan bagaimana AI digunakan.
Microsoft menyatakan kurikulum formal itu melengkapi bimbingan preceptor agar peserta dapat membangun dan mengirimkan perangkat lunak dengan percaya diri. Perusahaan juga menekankan bahwa pertimbangan tentang kapan menggunakan AI merupakan bagian dari pendidikan yang terus berlangsung.
Pada semester musim semi, peserta dijadwalkan mengambil DevOps: Engineering for Secure Development and Deployment serta bagian kedua rangkaian Preceptorship in AI-Augmented Software Engineering. Mata kuliah dalam program ini dapat diterapkan untuk meraih gelar magister rekayasa perangkat lunak di SCS, sehingga peserta memiliki jalur untuk melanjutkan studi.
CMU berharap dapat memperluas program dan menerima lebih banyak peserta sertifikat, serta membuka kemungkinan bekerja sama dengan mitra industri lain. Jonathan Aldrich, profesor S3D yang memimpin program sertifikat PRAISE, menilai pendekatan ini berpotensi menjadi pola untuk meningkatkan keterampilan pengembang baru di tengah perubahan AI dalam pengembangan perangkat lunak.
Langkah berikutnya sudah masuk dalam rancangan pembelajaran: peserta akan melanjutkan ke mata kuliah DevOps dan tahap kedua preceptorship pada semester musim semi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.