JAKARTA — Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional diharapkan dilantik pekan depan, sementara Dudung menyebut Profesor Satyawan sebagai sosok yang mungkin memimpin lembaga itu. Namun, jadwal pelantikan dan nama calon kepala badan belum dipastikan secara resmi.
Dudung menyampaikan kabar tersebut saat menjelaskan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas yang turut membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pembentukan badan itu berjalan beriringan dengan perhatian pemerintah terhadap kebakaran di sejumlah wilayah.
“Tadi saya lihat sudah ada, mudah-mudahan minggu depan bisa dilantik,” kata Dudung. Ia belum menyebut tanggal pelantikan yang pasti.
Badan Pengelola Gambut dan Mangrove: Nama Satyawan Belum Pasti
Ketika ditanya mengenai calon pemimpin lembaga, Dudung menyebut Profesor Satyawan. Ia segera memberi catatan bahwa informasi itu belum terkonfirmasi dan masih berdasarkan hal yang didengarnya.
“Tadi kalau enggak salah ya Profesor Satyawan, kalau enggak salah itu dari Kementerian Kehutanan,” ujarnya.
Dudung juga belum memastikan apakah Satyawan merupakan direktur jenderal di Kementerian Kehutanan. Ia hanya menyampaikan bahwa sosok yang dimaksud merupakan ahli di bidangnya.
“Ya, ahlinya kalau enggak salah,” kata Dudung.
Pernyataan itu belum menjadi pengumuman penunjukan. Sampai ada kepastian resmi, baik posisi Satyawan maupun waktu pelantikan masih berupa informasi yang disampaikan dengan sejumlah penanda ketidakpastian oleh Dudung.
Penanganan Karhutla Jadi Perhatian Presiden
Dalam rapat yang sama, Presiden Prabowo memberi perhatian terhadap penanganan karhutla di sejumlah daerah. Dudung menyebut laporan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memuat enam provinsi yang menjadi fokus penanganan, termasuk Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.
Di Kalimantan Tengah, Tanjung Puting dan kawasan sekitarnya menjadi salah satu prioritas. Kawasan itu memiliki taman nasional dan satwa yang perlu dilindungi, sehingga kebakaran di sekitarnya membawa risiko bagi habitat selain dampak langsung dari api dan asap.
Dudung mengatakan operasi pemadaman dari udara telah dilakukan. Namun, asap yang terlalu tebal menghambat upaya tersebut dan menyulitkan petugas menjangkau beberapa titik kebakaran.
Karena kendala itu, pemadaman lebih banyak mengandalkan operasi darat. Petugas memadamkan api langsung dari permukaan tanah, terutama di lokasi yang tidak mudah dijangkau helikopter maupun kendaraan operasional.
Kondisi tersebut membuat akses ke titik api menjadi persoalan langsung bagi operasi pemadaman. Ketika asap menghalangi bantuan udara, petugas perlu menangani kebakaran dari darat, termasuk di area yang sulit dijangkau. Di kawasan seperti Tanjung Puting, upaya itu juga berkaitan dengan perlindungan taman nasional dan satwa di dalamnya.
Rencana pembentukan badan pengelola gambut dan mangrove muncul dalam pembahasan yang sama dengan penanganan karhutla. Namun, Dudung tidak menjelaskan lebih jauh tugas badan itu dalam operasi pemadaman saat ini. Ia juga belum mengumumkan siapa yang akan memimpin lembaga tersebut.
Untuk saat ini, informasi yang disampaikan pemerintah masih mencakup harapan pelantikan pada pekan depan dan penyebutan nama Profesor Satyawan secara tentatif. Sementara itu, pemadaman karhutla di sejumlah wilayah tetap berlangsung dengan operasi darat saat asap tebal menghambat upaya dari udara.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.