Senin, 19 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Menko Pangan: Tak impor beras bukti ekonomi kerakyatan terwujud

Tak impor beras dan surplus pangan di sawah Indonesia
Produksi beras dalam negeri menjadi sorotan dalam pernyataan Menko Pangan Zulkifli Hasan. (Ilustrasi: AI)

SURABAYA — Ketergantungan impor pangan menyusut, sementara petani perlu merasakan hasilnya. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut Indonesia tidak mengimpor beras pada 2025 sebagai tanda awal ekonomi kerakyatan mulai berpihak kepada produsen dalam negeri.

Pernyataan itu disampaikan Zulkifli dalam Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam di Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu. Ia mengaitkan penghentian impor beras dan penguatan produksi jagung dengan peluang membaiknya kesejahteraan petani.

“Artinya petani Indonesia mulai tampak kemakmuran dan kesejahteraannya. Petani padi, petani jagung, baru dua yang kita berhasil,” kata Zulkifli, yang akrab disapa Zulhas.

Impor beras berhenti, surplus tercatat

Menurut Zulhas, Indonesia pada 2024 masih mengimpor beras sebanyak 4,5 juta ton. Pada tahun yang sama, impor pangan lain yang ia sebut mencakup garam 3 juta ton, gula 6 juta ton, gandum 13 juta ton, dan kedelai 3 juta ton. Ia juga menyebut impor daging sapi sebanyak 1 juta ekor.

Situasinya berubah pada 2025 untuk beras. Indonesia tidak lagi mengimpor komoditas itu dan mencatat surplus sekitar 4,2 juta ton, menurut bahan yang disampaikan dalam laporan Antara mengenai pernyataan Zulhas.

Angka tersebut memberi gambaran tentang kapasitas produksi dalam negeri, tetapi bagi petani, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada ketersediaan pangan. Zulhas menekankan bahwa manfaat produksi yang meningkat perlu sampai kepada orang yang menanam dan menghasilkan pangan.

Ukuran lain yang ia gunakan adalah nilai tukar petani. Indikator itu naik dari 116 pada 2024 menjadi 131 pada 2025, seiring upaya pemerintah memperkuat produksi pangan nasional. Kenaikan tersebut menjadi bagian dari alasan Zulhas menilai kondisi petani mulai membaik.

Manfaat produksi perlu sampai ke petani

Dampaknya terasa pada arah kebijakan pangan. Jika kebutuhan dapat dipenuhi dari hasil dalam negeri, petani memiliki ruang lebih besar untuk mengambil bagian dalam kegiatan ekonomi yang tumbuh dari permintaan pangan masyarakat. Namun, pernyataan Zulhas menempatkan kesejahteraan produsen sebagai ukuran penting: produksi dan pasokan saja belum cukup apabila manfaat ekonominya tidak dinikmati petani.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair