Senin, 19 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Tangkal Propaganda Radikalisme di Game Online Perlu Peran Orang Tua

Tangkal Propaganda Radikalisme di Game Online Perlu Peran Orang Tua
Tangkal Propaganda Radikalisme di Game Online Perlu Peran Orang Tua

JAKARTA — Fitur percakapan dan ruang bermain dalam gim daring dapat disalahgunakan untuk menyebarkan propaganda ekstremisme, tetapi gim bukan penyebab langsung radikalisasi. Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional Fisipol UKI Angel Damayanti menilai orang tua perlu mencermati interaksi anak, terutama ketika komunikasi berpindah ke grup tertutup.

Pernyataan Angel disampaikan di Jakarta dan diberitakan pada Senin, 19 Oktober 2026. Ia juga menjabat Rektor UKI periode 2026–2030. Menurutnya, risiko muncul ketika fitur permainan dipakai untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, atau menjangkau remaja yang rentan.

Gimnya bukan pemicu utama. Penyalahgunaan ruang sosial di dalamnya yang perlu diwaspadai.

Tangkal propaganda radikalisme di game online dengan memahami risikonya

Angel menjelaskan, interaksi yang berulang dapat membangun ikatan emosional di antara pemain. Identitas anonim dan kebebasan merancang skenario maupun simbol permainan juga dapat dimanfaatkan untuk menyisipkan pesan ekstrem.

Dalam pemberitaan JPNN, Angel menyebut kelompok radikal telah menggunakan gim daring sejak dekade 1980-an. Ia juga menjelaskan bahwa pada 2014 ISIS mulai memanfaatkan permainan online, termasuk Call of Duty, untuk menarik perhatian publik dan memulai propaganda.

Perkembangan teknologi membuat pola itu berubah. JPNN mengutip Angel yang mengatakan bahwa risiko bertambah ketika permainan dapat dikustomisasi sejak 2020. Fitur buatan pemain dapat memperluas ruang untuk membentuk konten dan pengalaman bermain, meski keberadaan fitur tersebut sendiri tidak berarti sebuah gim mendorong radikalisme.

Perbedaan pentingnya ada pada cara orang memakai ruang itu. Sebagian besar pemain tidak berkaitan dengan ekstremisme, kata Angel dalam kutipan yang dimuat sumber utama. Karena itu, pembahasan tentang keamanan anak perlu membedakan gim sebagai hiburan dari perilaku pihak yang memanfaatkan interaksi di dalamnya.

Dari ruang bermain menuju grup pesan tertutup

Salah satu pola yang perlu diperhatikan adalah perpindahan komunikasi. Dalam laporan JPNN, Angel menyebut BNPT mengonfirmasi pada Oktober 2025 adanya pola perekrutan yang mengarahkan anak muda dari platform gim ke grup pesan tertutup, seperti WhatsApp atau Telegram, untuk berkomunikasi lebih intensif.

Perpindahan itu membuat pengawasan lebih rumit. Percakapan yang semula berlangsung di ruang permainan dapat berlanjut di kanal lain, sehingga orang tua mungkin tidak melihat keseluruhan konteks hanya dengan mengetahui gim yang dimainkan anak.

Dampaknya terasa pada cara keluarga membangun kewaspadaan digital. Melarang semua gim tanpa melihat aktivitas dan pola komunikasi anak berisiko melewatkan persoalan yang sebenarnya: ajakan berpindah kanal, pesan yang membenarkan kekerasan, atau kelompok yang menuntut kesetiaan eksklusif.

Sebaliknya, perhatian pada perubahan interaksi memberi orang tua pijakan yang lebih konkret untuk membuka percakapan dan memahami apa yang terjadi.

Angel menekankan bahwa kerentanan tumbuh dari gabungan interaksi sosial, anonimitas, dan fitur yang bisa dimanfaatkan. Dengan demikian, pembicaraan tentang gim dan radikalisme tidak cukup berhenti pada jenis permainan. Pola hubungan pemain juga penting.

Peran orang tua dalam membaca perubahan perilaku

Orang tua dapat mulai dengan menanyakan pengalaman anak saat bermain, siapa yang berkomunikasi dengannya, serta apakah percakapan berlanjut di luar gim. Pendekatan ini sejalan dengan inti peringatan Angel: ancaman bukan melekat pada setiap permainan, melainkan muncul saat ruang interaksi digunakan untuk menyebarkan kebencian atau merekrut orang yang rentan.

Percakapan yang terbuka juga membantu anak membedakan ajakan bermain dari upaya membangun kedekatan yang disertai tekanan ideologis. Kewaspadaan bukan berarti menganggap setiap pemain asing sebagai ancaman. Yang perlu dicermati ialah pola komunikasi dan perubahan arah interaksi.

Angel, yang juga Peneliti Senior Center for Security and Foreign Affairs (CESFAS) UKI, mengingatkan bahwa kelompok radikal terus menyesuaikan strategi di ruang digital. Laporan sumber pembanding menyebut komunikasi dapat bergerak dari gim ke aplikasi pesan tertutup, sementara fitur permainan yang dapat dikustomisasi menambah ruang ekspresi pemain.

Rincian yang tersedia tidak menyebut nama gim tertentu sebagai sumber ancaman bagi anak-anak Indonesia. Karena itu, kewaspadaan keluarga lebih tepat diarahkan pada perilaku dan ajakan yang muncul dalam interaksi, bukan pada anggapan bahwa seluruh gim daring berbahaya.

Perhatian orang tua akan tetap dibutuhkan saat pola komunikasi digital berubah. Pemantauan yang disertai dialog dapat membantu keluarga mengenali perpindahan percakapan dari ruang gim ke grup tertutup—pola yang, menurut Angel, telah dikonfirmasi BNPT pada Oktober 2025.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 19 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis