JAKARTA — Dugaan tekanan GIC dan Temasek terhadap Morgan Stanley Capital International (MSCI) disampaikan mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi saat pasar saham Indonesia melemah.
Dalam unggahan Instagram pribadinya yang dikutip pada Selasa (20/10/2026), Lutfi mengaitkan ancaman penurunan klasifikasi pasar Indonesia dengan upaya memicu kepanikan agar saham bisa dibeli kembali pada harga lebih rendah.
Klaim itu menyentuh isu yang berpotensi memengaruhi kepercayaan investor dan pergerakan pasar. Namun, dugaan mengenai peran GIC, Temasek, serta tekanan terhadap MSCI tersebut merupakan pernyataan Lutfi dalam unggahannya; bahan yang tersedia tidak memuat konfirmasi dari pihak-pihak yang disebut.
Dugaan manuver Singapura di balik ancaman MSCI
Lutfi menilai tekanan untuk mengubah status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market dapat menciptakan keresahan di pasar. Ia menghubungkan ancaman itu dengan dugaan upaya investor asing menekan harga saham sehingga aset Indonesia dapat dibeli lebih murah.
“Jatuhnya indeks saham kita pekan ini bukanlah kebetulan, melainkan puncak dari skenario yang dirancang dengan sangat rapi.
Saat aksi keluar dana asing sebelumnya belum memberi mereka ruang yang cukup untuk membeli kembali di harga murah, muncullah desakan dari balik layar melalui GIC dan Temasek agar MSCI mengancam penurunan kasta Indonesia ke Standalone Market,” ujar Lutfi, sebagaimana dikutip pada Selasa (20/10/2026).
Pernyataannya itu adalah tuduhan yang disampaikan Lutfi, bukan kepastian mengenai adanya koordinasi antara lembaga investasi Singapura dan MSCI. Bahan sumber tidak menyertakan tanggapan GIC, Temasek, MSCI, maupun pihak lain yang disebut dalam unggahan tersebut.
Ada klaim lain. Lutfi menyebut nama Rachel Ko dari GIC dan mengatakan ia mendapat kabar bahwa Ko marah serta menekan MSCI agar menurunkan peringkat Indonesia. Informasi tentang kabar itu disampaikan Lutfi dalam video yang diunggahnya; sumber yang tersedia tidak memberikan verifikasi independen.
Penjelasan Lutfi tentang standalone market
Dalam video itu, Lutfi juga mempertanyakan alasan Indonesia dapat diancam turun ke kategori standalone market. Ia menjelaskan bahwa kategori tersebut, menurut pemahamannya, berkaitan dengan negara yang menerapkan capital control atau pembatasan transaksi valuta asing maupun arus modal.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.