Di akhir percakapan, kedua AI saling bertukar pujian dan basa-basi. Mereka tampak dapat terus mengobrol seandainya Graham tidak turun tangan. Momen itu lucu, tetapi juga menonjolkan jarak antara percakapan yang terdengar lancar dan proses yang benar-benar memahami kebutuhan manusia.
TechRadar menulis bahwa penggunaan pewawancara AI meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sementara pencari kerja semakin mengeluhkan proses yang terasa impersonal. Bagi kandidat, wawancara bukan hanya soal menjawab pertanyaan. Mereka juga ingin memahami perusahaan dan merasakan hubungan dengan orang yang mungkin menjadi rekan kerja atau atasan.
Di Indonesia, eksperimen ini relevan sebagai pengingat bagi perusahaan yang mempertimbangkan otomatisasi rekrutmen: alat yang terdengar fasih belum tentu dapat menjaga akurasi informasi atau mewakili kepentingan kandidat. Jika perusahaan memakai sistem otomatis untuk wawancara, hasilnya tetap perlu dinilai manusia, terutama saat menyangkut pengalaman kerja dan kesepakatan gaji.
Eksperimen Graham tidak membuktikan bahwa setiap sistem wawancara AI akan membuat kesalahan yang sama. Namun, video itu menunjukkan bahwa kelancaran percakapan saja belum cukup untuk menjamin proses seleksi yang adil dan akurat.
TechRadar menekankan bahwa perekrutan tetap membutuhkan sentuhan manusia; perusahaan yang memakai avatar AI perlu memastikan kandidat tetap dapat berinteraksi dengan manusia dalam prosesnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.