KUTAI TIMUR — Kebakaran di pabrik kelapa sawit milik PT Nusaraya Agro Sawit tidak menimbulkan korban jiwa, sementara perusahaan masih menghitung kerugian. Insiden di Kalimantan Timur ini juga memunculkan pertanyaan soal pemilik perusahaan dan dampaknya terhadap operasi perkebunan.
PT Palma Serasih Tbk (PSGO) menyebut kejadian berlangsung di anak usahanya, PT Nusaraya Agro Sawit (NASA). Perusahaan memastikan kegiatan operasional perkebunan tetap berjalan normal.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia yang dikutip pada Rabu (21/10), Direktur dan Sekretaris Palma Serasih Astrida Niovita Bachtiar mengatakan kapasitas pengolahan dialihkan ke pabrik milik entitas anak lainnya. Perusahaan belum menyampaikan nilai kerugian akibat kebakaran.
Pabrik berada di Kutai Timur
PT Nusaraya Agro Sawit berlokasi di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Wilayah itu berbatasan langsung dengan Kecamatan Muara Wahau.
Belum ada keterangan dalam bahan perusahaan mengenai penyebab kebakaran ataupun rincian bagian pabrik yang terdampak. Yang dipastikan manajemen, tidak ada korban jiwa dan perusahaan tengah menghitung kerugian.
Astrida menyampaikan perusahaan bersama Nusaraya Agro Sawit berkomitmen bertanggung jawab dan mengutamakan keselamatan. Ia juga memastikan pengolahan tetap ditopang oleh pabrik lain dalam grup.
“NUSA tetap berjalan normal dengan mengoptimalkan kapasitas olah PKS entitas anak perusahaan lainnya, sehingga target kinerja tetap dapat tercapai,” ucap Astrida dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Rabu (21/10).
Bagi kegiatan usaha, kelancaran pengalihan kapasitas menjadi hal yang penting. Perusahaan menyatakan operasional perkebunan tetap berjalan, tetapi belum memaparkan berapa lama pabrik terdampak akan berhenti beroperasi atau kapan perhitungan kerugian selesai.
Pemilik manfaat akhir Palma Serasih
Dalam struktur kepemilikan, Sohat Chairil tercatat sebagai pemilik manfaat akhir atau ultimate beneficial owner Palma Serasih dengan porsi 78%. Kepemilikan itu terdiri atas 43% melalui PT Jalinankasih Sesama dan 35% melalui PT Serasih Holdico.
Angka tersebut merujuk pada kepemilikan manfaat akhir di Palma Serasih, perusahaan induk yang menyampaikan informasi soal kebakaran di anak usahanya. Bahan yang tersedia tidak merinci struktur kepemilikan langsung PT Nusaraya Agro Sawit.
Skala usaha grup memberi konteks pada arti gangguan di satu fasilitas pengolahan. Berdasarkan laporan tahunan 2025, Palma Serasih mengelola lahan inti seluas 20.300 hektare dan lahan plasma 7.700 hektare. Total area tertanam mencapai 28.000 hektare; 99% berupa tanaman menghasilkan dan 1% tanaman belum menghasilkan.
Sepanjang 2025, perusahaan memproduksi 480.800 ton tandan buah segar dari kebun inti dan plasma. Pabriknya menghasilkan 140.200 ton minyak kelapa sawit serta 21.600 ton inti kelapa sawit.
Dampak kebakaran terhadap operasi
Untuk pembeli dan mitra usaha, kepastian produksi menjadi informasi yang perlu dipantau setelah insiden. Manajemen menyebut kapasitas olah dari pabrik anak usaha lainnya akan dioptimalkan agar target kinerja tetap tercapai. Namun, belum ada angka yang menunjukkan berapa kapasitas yang dialihkan atau besarnya pengaruh kebakaran terhadap produksi.
Perbedaan antara kegiatan kebun dan pengolahan juga penting. Perusahaan menyatakan operasional perkebunan tetap normal, tetapi pabrik yang mengalami kebakaran adalah fasilitas untuk mengolah hasil panen. Karena itu, pernyataan soal kebun yang berjalan normal tidak dengan sendirinya menjelaskan kapan fasilitas tersebut kembali beroperasi.
Manajemen Palma Serasih menilai prospek industri sawit pada 2026 tetap positif. Ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina dan Timur Tengah, menurut perusahaan, berpotensi mengganggu rantai pasok global serta mendorong kenaikan harga energi. Kondisi itu dapat mendorong pemerintah menerapkan mandatori biodiesel B45 atau B50 untuk mengantisipasi krisis energi.
Namun, perusahaan juga mencatat sejumlah tekanan terhadap pasokan dan biaya. Realisasi peremajaan sawit yang masih di bawah target, perubahan iklim, keterbatasan tenaga kerja, usia tanaman yang semakin tua, serta persoalan legalitas lahan disebut berpotensi menekan pertumbuhan pasokan minyak sawit.
Ekspansi pun menghadapi keterbatasan lahan dan pengetatan regulasi pemerintah. Perusahaan menilai ketegangan geopolitik, perang tarif, serta standar keberlanjutan yang lebih ketat berpotensi meningkatkan biaya operasional dan kepatuhan.
Di tengah tantangan itu, perhatian terdekat tertuju pada hasil penghitungan kerugian dan perkembangan operasional pabrik di Kutai Timur. Astrida menegaskan, “NUSA tetap berjalan normal dengan mengoptimalkan kapasitas olah PKS entitas anak perusahaan lainnya, sehingga target kinerja tetap dapat tercapai.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.